Lampu temaram dari langit-langit menyinari sebagian ruang rawat, menciptakan bayangan lembut di dinding. Di sudut ruangan, suara alat monitor berdetak pelan dan konstan, menandakan kestabilan kondisi pasien. Aroma antiseptik khas rumah sakit masih memenuhi udara. Hannan membuka mata perlahan. Pandangannya sempat kabur sebelum akhirnya fokus pada pemandangan pertama yang dilihatnya—Andini, duduk di kursi kecil di antara tempat tidurnya dan boks bayi. Kepalanya menunduk di atas boks, satu tangannya masih memegang sisi ranjang, seolah takut terlepas. Gerakan pelan dari tubuh Hannan membuat Andini terbangun. Dia terangkat dari posisi tidurnya dengan ekspresi panik yang tertahan. Mata lelahnya langsung mengarah pada Hannan. "Hannan? Kamu sudah bangun?!" Perempuan itu berseru dengan nada sedi

