Murkanya Hannan Alfaruq.

1203 Kata

Suasana di ruang tengah begitu sunyi, seolah waktu ikut membeku. Bau teh masih samar di udara, namun rasanya tak lagi hangat di d**a. Lena baru saja mengutarakan niat tulusnya—penawaran yang dia harap bisa menjadi kesempatan baru bagi putranya. Sayang, belum sempat ada jawaban dari Andini, teriakan itu datang. "Bu!" Suara Hannan menggema dari ambang pintu. Lantang. Dingin. Tajam. Seperti tersambar petir di siang bolong, Lena dan Andini sama-sama menoleh. Andini nyaris menjatuhkan cangkir teh yang masih setengah dia genggam. Mata Hannan menatap lurus ke arah ibunya. Rahangnya mengeras, urat di lehernya menegang. "Tarik kembali yang Ibu katakan," ucap Hannan berat dan menggelegar. Lena yang terkejut hanya bisa berdiri mematung. "H-Hannan—" "Diam!" Bentakan itu membuat Andini sontak b

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN