Sejak hari di mana pertengkaran hebat antara Lena dan Hannan terjadi, rumah besar keluarga Al-Faruq tidak lagi terasa seperti rumah. Atmosfer hangat yang biasanya menyambut siapa pun yang masuk, kini menghilang, tergantikan oleh keheningan dingin yang merayap di setiap sudut ruangan. Tidak ada lagi suara tawa kecil Lingga di pagi hari, atau aroma teh hangat buatan Lena yang biasa menguar dari dapur. Semua seolah dibekukan oleh satu insiden yang belum benar-benar reda. Hannan kembali menjadi sosok yang dulu: dingin, pendiam, dan tak tersentuh. Pria itu seperti bayangan, berjalan cepat, muncul dan menghilang tanpa suara. Tidak ada yang berani menegurnya, bahkan karyawan rumah pun seolah selalu menghindar ketika melihatnya lewat. Rumah yang dulu dipenuhi dinamika kehidupan, kini mendadak k

