Kepergian yang Terlambat Disadari

1240 Kata

Langit sore masih menggantung mendung ketika mobil hitam berhenti di halaman rumah besar milik Hannan Alfaruq. Pimpinan muda itu turun pelan dari kursi belakang, matanya menyapu halaman seperti mencari sesuatu. Rambutnya berantakan, dasi longgar tergantung di leher, dan wajahnya—pucat serta dihiasi lingkar mata gelap. Sudah beberapa hari Hannan tidak pulang, lebih sering menghabiskan malam di kantor. Bukan karena pekerjaan yang menumpuk, melainkan karena hatinya sendiri yang menolak pulang. Saat turun, Hannan melihat seorang bayi kecil diayun pelan oleh seorang babysitter di bawah pohon mangga. "Itu Lingga?" tanyanya lirih, namun cukup membuat pengawal di belakangnya menegakkan tubuh. "Ya, Pak. Tuan muda Lingga sedang menikmati udara sore," jawab salah satu staf dengan nada hati-hati.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN