Langit sore masih menggantung mendung ketika mobil hitam berhenti di halaman rumah besar milik Hannan Alfaruq. Pimpinan muda itu turun pelan dari kursi belakang, matanya menyapu halaman seperti mencari sesuatu. Rambutnya berantakan, dasi longgar tergantung di leher, dan wajahnya—pucat serta dihiasi lingkar mata gelap. Sudah beberapa hari Hannan tidak pulang, lebih sering menghabiskan malam di kantor. Bukan karena pekerjaan yang menumpuk, melainkan karena hatinya sendiri yang menolak pulang. Saat turun, Hannan melihat seorang bayi kecil diayun pelan oleh seorang babysitter di bawah pohon mangga. "Itu Lingga?" tanyanya lirih, namun cukup membuat pengawal di belakangnya menegakkan tubuh. "Ya, Pak. Tuan muda Lingga sedang menikmati udara sore," jawab salah satu staf dengan nada hati-hati.

