Restoran yang dipilih Hannan tidak terlalu ramai malam itu. Lampu-lampu hangat memantulkan cahaya lembut ke dinding kayu dan kaca, menciptakan suasana tenang dan privat. "Saya merasa kurang hadir untuk kamu dan Lingga," ucap Hannan tiba-tiba, nadanya rendah namun terdengar jelas di tengah kesunyian meja. "Padahal kamu tinggal di rumah saya, merawat anak saya. Bahkan, tubuh kamu memberi makan Lingga setiap hari." Ada jeda diantara kalimat yang Hannan lontarkan. Pria berahang tegas itu menarik napas sebentar. "Setelah semua yang kamu lakukan, saya bahkan tidak pernah menanyakan bagaimana perasaan kamu selama ini. Saya minta maaf, Andini." Sedang perempuan yang tertegun atas ucapan yang dilontarkan Hannan itu buru–buru menggeleng. "Tidak apa-apa. Aku mengerti pekerjaanmu tidak mudah," bala

