Cahaya lampu kristal di langit-langit memantul pada kaca meja rapat yang memanjang. Kursi-kursi kulit hitam tampak rapi, meski atmosfer di ruangan begitu berat. Para kepala divisi duduk dengan tegang, sebagian menggulirkan tablet di tangan, sisanya menatap gelisah ke ujung meja tempat Hannan Alfaruq duduk. Dengan jas hitam yang presisi dan jam tangan mahal yang mencolok diam di pergelangannya, pria itu tak perlu mengucapkan sepatah kata pun untuk membuat semua orang menahan napas. Wibawa dan d******i terpancar dari setiap gerak tubuhnya. "Saya lihat ada yang mulai bersikap tak nyaman akhir-akhir ini," suara Hannan datar, serendah gumaman, tapi menggema ke seluruh ruangan. "Padahal, seharusnya kalian semua tahu, ketidaknyamanan adalah awal dari ketidakbecusan." Suasana menjadi hening. Ad

