Tidak sampai lima belas menit, aula rumah penuh. Semua staf rumah tangga berdiri kaku. Tak seorang pun berani angkat suara. Semua orang berdiri dalam barisan tegang. Kepala tertunduk, tangan saling menggenggam gelisah. Aura dalam ruangan berubah mencekam ketika langkah Hannan memasuki aula dengan Ira di belakangnya. Tak perlu banyak kata, keberadaannya saja sudah cukup untuk membuat semua yang hadir merasa seperti sedang menunggu vonis mati. Di ruangan itu, waktu seolah berhenti. Andini masih di kamar atas, di bawah pengawasan dokter pribadi yang Hannan datangkan dalam waktu kurang dari dua puluh menit sejak kabar keracunan itu menghantam telinganya. Hannan berdiri di hadapan mereka. Mengenakan kemeja gelap yang masih kusut, rambut acak-acakan, dan mata yang tampak seperti tidak tidur b

