Lampu tidur menyala redup. Jam di dinding menunjuk pukul sebelas malam, dan udara dalam kamar VVIP itu terasa lebih hening dari biasanya. Hannan menyandarkan tubuh dengan malas di ranjang, memandangi langit-langit kamar sambil sesekali mencuri pandang ke arah Andini yang duduk di sofa, sibuk dengan ponselnya. "Masih lama?" tanya Hannan datar, suaranya berat dan malas-malasan. Andini tidak mengalihkan pandangan. "Apanya?" "Tidurnya," sahut Hannan, lalu dengan santai menepuk sisi ranjang yang kosong. "Saya nggak gigit. Kalau takut, bawa bantal sebagai tameng." Andini tidak membalas, sedang sibuk dengan tumpukan bantal dan selimut tambahan di ranjang baru. Tidak seperti malam sebelumnya, malam ini dia bersikap lebih acuh. Hannan sadar betul akan perubahan itu. "Saya nggak maksa, tapi kal

