Napas yang Terlilit Nama.

1678 Kata

Lampu kamar diredupkan. Di luar, angin membawa aroma antiseptik samar dari lorong rumah sakit. Hannan dan Andini duduk berdampingan di tepi ranjang. Tak ada kata-kata di antara mereka. Yang terdengar hanyalah detak jarum infus yang menetes perlahan, serta napas Hannan yang masih belum sepenuhnya stabil. “Boleh ini saya turunkan sedikit?” tanya Hannan pelan, sementara jemarinya telah menyentuh bagian belakang pakaian Andini. Yang diajak bicara terdiam. Mungkin Hannan tak bermaksud membuat pertanyaan itu terdengar intim, tetapi tetap saja, kalimat sederhana itu langsung membuat jantung Andini berdetak lebih cepat dari biasanya. Entah karena posisi mereka, atau karena keheningan yang terlalu pekat. Suara rendah Hannan seperti menabrak ruang privat di telinganya. “Andini? Dengar tidak?” Ba

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN