Mau Sampai Kapan?

2239 Kata

Mamaaaaaaa! jeritan batin Lily. Panas dingin, lemas serta gemetar. Jantung Lily sudah terasa lepas dari tempatnya. Napasnya tersengal-sengal. Ingin menangis saja rasanya, saat Rainer mengusap-usap perut Lily, dari balik gaun tidurnya. Bibir Rainer yang sedikit tebal, tengah sibuk menjelajahi tengkuk leher Lily. Mengecupnya dengan begitu bersemangat. Hembusan napas berat dapat Lily rasakan, pada tengkuk lehernya dan membuat bulu kuduknya berdiri. Astaga! Apakah Rainer sudah kehilangan akal sehatnya? Padahal, ia sedang berpura-pura tertidur. Tapi kenapa orang di belakang tubuhnya kini, tidak membiarkannya tenang dan malah terus berusaha menjamah tubuhnya lebih jauh dan jauh lagi. Lama-kelamaan kecupan Rainer semakin intens Lily rasakan. Bahkan, sudah sampai pada bahu Lily. Outer yang ia k

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN