Langkah Lintang masuk ke rumah Dira sudah seperti masuk ke rumah sendiri. Ia menghempaskan bokongnya ke sofa empuk di ruang tamu tanpa menunggu dipersilakan. Tangannya sibuk mengipasi lehernya yang terasa gerah, sementara bibirnya masih setia dengan pose mecucu andalannya.
"Wajahmu kenapa toh? Mbok tekuk gitu, kamu pikir cantik?" Dira muncul dari arah dapur dengan segelas es jeruk, langsung menyindir sahabatnya itu. "Datang-datang bukannya kasih salam malah pamer muka bebek."
Lintang mendengus keras, menyambar es jeruk milik Dira tanpa permisi dan meminumnya hingga separuh. "Nggak usah ngomong aja kamu. Jadi nggak ini? Kalau nggak jadi, aku mau pulang terus mau santet orang lewat naskah!"
Dira terbahak, sudah hafal dengan tabiat Lintang kalau sudah diganggu mood-nya. "Jadi dong! Gila apa, aku sudah dandan begini. Sudah lama kita nggak jalan-jalan, stres aku lihat laporan kantor terus."
Dira bangkit dengan riang. "Tunggu sebentar ya, aku ambil helm sama tas dulu di kamar."
"Iya, jangan lama-lama!" teriak Lintang saat Dira mulai menaiki tangga.
Lintang menyandarkan kepalanya ke bantalan sofa. Namun, keheningan rumah Dira sore ini perlahan mulai terasa aneh di telinganya. Biasanya, rumah ini adalah pusat kebisingan kedua setelah rumahnya sendiri.
"Ra! Tante Laras sama Om Jiwa ke mana?" teriak Lintang lagi, matanya mengedar menatap ruang tengah yang sepi. "Tumben sepi banget kayak kuburan. Biasanya Om Jiwa sudah setor suara lewat karaoke di jam gini."
"Lagi ke kondangan di Gresik!" sahut Dira dari lantai atas, suaranya teredam pintu. "Katanya pulang besok pagi. Kenapa? Takut ya kamu di sini sendirian?"
"Dih, siapa yang takut. Malah enak sepi begini, nggak ada yang julit tanya kapan nikah," gumam Lintang pelan.
Lintang bangkit, berjalan menuju cermin besar di sudut ruangan untuk merapikan kemeja kremnya yang sedikit berantakan. Ia teringat kembali pada tatapan Dewa di depan pintu tadi. Tatapan yang seolah menelanjanginya, menilai betapa kontrasnya daster tampilan berantakan setelah adegan cilok tadi siang dengan penampilannya yang chic sore ini.
"Sialan itu Mas Bule," umpatnya lirih sambil memoles ulang lip cream di bibirnya. "Ganteng sih memang, tapi kaku banget. Kayak kanebo kering yang kelamaan dijemur."
Tak lama kemudian, Dira turun dengan gaya modisnya, menenteng helm dan tas kecil. "Yuk! Mau ke mana dulu? Tunjungan Plaza atau mau cari makan di daerah Surabaya Barat yang hits itu?"
"Terserah kamu, Ra. Yang penting tempatnya jauh dari kompleks ini. Aku butuh udara yang bebas dari aroma-aroma tetangga baru," jawab Lintang penuh penekanan.
Dira mengerutkan kening sambil memakai helmnya. "Tetangga baru? Oh... yang bule itu? Yang katanya gantengnya nggak manusiawi itu? Kamu sudah ketemu?"
Lintang memutar bola matanya malas, berjalan keluar menuju motornya. "Jangan dibahas. Kalau kamu bahas dia lagi, aku balik ke rumah sekarang juga!"
"Waduh, kok ngamok! Pasti ada apa-apanya ini," goda Dira sambil terkekeh, menyusul Lintang menuju garasi.
Mereka berdua pun meluncur membelah jalanan Surabaya. Lintang merasa sedikit lega, setidaknya untuk beberapa jam ke depan ia tidak perlu melihat wajah Dewa atau mendengar suara kaku pria itu yang entah kenapa terus terngiang-ngiang di kepalanya.
Namun, Lintang tidak tahu bahwa saat ia sedang asyik tertawa bersama Dira di sebuah kafe, di sebuah grup w******p keluarga besarnya, nama "Lintang" dan "Sadewa" mulai disebut-sebut oleh sang Ibu dalam sebuah rencana yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
----
Di kediaman keluarga Dirgantara yang sunyi, Dewa duduk sendirian di meja makan kayu jati yang besar. Di depannya, wadah anyaman berisi pisang goreng wijen dan roti manis masih mengepulkan uap tipis, membawa aroma margarin dan gula yang menenangkan.
Namun, pikiran Dewa sama sekali tidak tenang.
Ia mengambil sepotong pisang goreng, mengamati tekstur krispinya sejenak sebelum menggigitnya pelan. Rasanya manis dan hangat—persis seperti memori masa kecilnya tentang rumah ini. Tapi, bayangan yang muncul di kepalanya justru bukan tentang masa kecil.
Bayangan itu kembali pada insiden beberapa jam lalu. Bayangan melalui celah jendela yang terbuka.
"Sialan, otakmu tidak waras, Dewa," umpatnya rendah. Suaranya bergema di ruang makan yang sepi, terdengar seperti teguran keras untuk dirinya sendiri.
Dewa meletakkan kembali potongan pisang itu. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, memejamkan mata rapat-rapat. Namun, bukannya hilang, memori itu justru makin tajam. Ia teringat jelas bagaimana Lintang dengan gerakan ceroboh sekaligus percaya diri menyentak kaosnya ke atas. Ia teringat siluet perut rata yang sedikit bergerak karena napas kesal gadis itu, kulit kuning langsat yang tampak halus tertimpa cahaya lampu, dan pinggang ramping yang seolah sangat pas jika berada dalam dekapan tangannya.
Ia menelan ludah susah payah. Ada desiran panas yang merambat dari dadanya ke sekujur tubuh. Sebagai pria dewasa yang terbiasa mengontrol segalanya dengan logika, reaksi tubuhnya sore ini benar-benar di luar kendali.
"Hanya seorang penulis nakal yang hobinya marah-marah," gumamnya, mencoba merasionalisasi keadaan.
Dewa membuka matanya, menatap kosong ke arah tembok. Ia teringat ekspresi Lintang saat menyerahkan makanan tadi. Gadis itu memakai kemeja krem yang senada dengannya—sebuah kebetulan yang konyol—tapi wajahnya ditekuk sedemikian rupa hingga bibirnya mengerucut menggemaskan. Dewa menyadari satu hal yang berbahaya: ia tidak merasa terganggu. Sebaliknya, ia merasa gemas.
Bolehkan ia melumat bibir mengerucut itu?
Ow s**t, sudah tak waras seorang Sadewa Arka Dirgantara.
Ada kepuasan tersendiri saat ia berhasil memancing emosi gadis itu hingga Lintang mengumpat dengan dialek Suroboyoannya yang kental. Mata Lintang yang besar dan bulat saat melotot marah padanya tadi, entah kenapa, terasa lebih menarik daripada ribuan wanita bergaun elegan yang pernah ia temui di pesta-pesta korporat Eropa.
"Dia bukan lagi anak kecil yang suka menangis minta permen," bisik Dewa.
Dewa bangkit dari kursinya, merasa perlu membasuh wajahnya dengan air dingin agar pikiran liarnya tidak melangkah lebih jauh. Namun, saat ia melangkah menuju wastafel, matanya kembali melirik sisa pisang goreng di meja.
Gadis itu liar, ekspresif, dan sangat jauh dari kriteria wanita "tenang" yang biasa Dewa sukai. Tapi hari ini, Sadewa Arka Dirgantara harus mengakui satu fakta pahit: ia baru saja kembali ke tanah air, dan jantungnya sudah berhasil dicuri oleh tetangganya sendiri yang hobi makan pentol urat itu.
Ia menghela napas panjang, menatap pantulan wajahnya yang dingin di cermin dapur. "Selamat berjuang dengan kewarasanmu, Dewa. Karena sepertinya, tetanggamu itu tidak akan membiarkan hidupmu tenang mulai besok."