7

1346 Kata
Suara azan Magrib berkumandang, membelah keheningan sore yang mulai beranjak gelap. Suara muazin dari masjid tak jauh dari kompleks itu terdengar sangat merdu dan jernih, membawa getaran yang sudah sangat lama tidak dirasakan oleh Dewa. Sepuluh tahun di Belanda, ia lebih akrab dengan suara bising kereta bawah tanah atau dentang lonceng gereja di kejauhan. Mendengar panggilan salat ini, ada rasa hangat yang menjalar di dadanya, sebuah perasaan tenang yang tak bisa ia jelaskan dengan logika bisnis. Dewa menghentikan jemarinya yang sejak tadi bergerak liar di atas keyboard laptop. Ia menyandarkan punggung, menarik napas panjang. Di rumah kedua orangtuanya ini, ia merasa benar-benar hidup kembali. Bukan sebagai CEO yang dikejar target, melainkan sebagai Sadewa, manusia yang butuh jeda waktu untuk kembali waras. Ia bangkit, memunguti beberapa botol air mineral kosong yang berserakan di meja kerjanya. Dengan kresek plastik di tangan, Dewa melangkah keluar rumah menuju tempat sampah besar di depan pagar. Udara malam Surabaya mulai turun, membawa aroma tanah basah yang khas. Tepat saat ia menjatuhkan kresek itu ke dalam bak sampah, sebuah suara tenang dan tegas menyapanya. "Kamu di rumah, Wa?" Dewa mendongak. Di balik pagar rendah rumah sebelah, berdiri Bramasta. Pria itu tampak sangat berwibawa dalam balutan baju koko putih bersih dan sarung tenun berwarna gelap yang rapi. Aura kebapakan Bramasta selalu mengingatkan Dewa pada ayahnya sendiri. "Iya, Om," jawab Dewa sopan, sedikit membungkukkan badan. "Mas Dewa, ndak siap-siap ke masjid?" Suara cempreng itu membuat Dewa menunduk. Di samping kaki Bramasta, ada Linggar. Bocah gembul itu terlihat sangat menggemaskan mengenakan sarung yang sepertinya sedikit kepanjangan dan peci hitam yang miring ke kanan. Linggar menatapnya dengan mata bulat penuh rasa ingin tahu. Mendadak, Dewa merasa ada seulas rasa malu yang menyelinap. Ia berdiri di sana dengan kaos oblong dan celana santai, sementara tetangganya sudah bersiap menghadap Tuhan. "Iya, sebentar lagi," jawab Dewa kaku, sedikit gugup karena tidak menduga akan diajak secara langsung. Bramasta tersenyum teduh, seolah bisa membaca keraguan di wajah Dewa. "Ya sudah sekalian saja. Saya tunggu di sini, Wa. Kita jalan bareng ke depan." Dewa menelan ludah. Tak enak hati untuk menolak ajakan tulus pria yang sangat dihormatinya itu. "Iya, Om. Sebentar, saya ganti baju dulu." Dewa berbalik dan setengah berlari masuk ke dalam rumah. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Ia bukan muslim yang taat; ia tahu dirinya punya banyak kelalaian selama bertahun-tahun hidup di dunia barat yang serba bebas. Namun, ajakan Bramasta terasa seperti tarikan halus yang memanggilnya kembali ke jalur yang seharusnya. Di depan lemari, Dewa sempat bingung. Ia tidak punya baju koko. Beruntung, ia menemukan sebuah kemeja katun berlengan panjang berwarna biru navy yang rapi dan celana kain hitam. Setelah berwudu dengan air yang terasa sangat dingin namun menyegarkan, ia mengenakan pakaian itu. Saat ia menatap pantulan dirinya di cermin, ada getaran aneh yang ia rasakan. Memakai pakaian tertutup dan rapi untuk pergi ke masjid memberikan perasaan "pantas" yang jarang ia rasakan. Ia merapikan rambutnya sebentar, lalu menyambar kunci rumah. "Mari, Om. Maaf menunggu lama," ucap Dewa saat kembali ke gerbang. Bramasta menepuk bahu Dewa dengan hangat. "Nggak apa-apa. Yuk, berangkat. Linggar, ayo gandeng Ayah sini, biar ndak lari-lari." Linggar pun dengan senang hati meraih tangan besar Dewa. Tangan mungil yang hangat dan sedikit lembap itu menggenggam jemari Dewa dengan erat. Dewa tertegun sebentar, merasakan kepolosan seorang anak kecil yang begitu saja menerimanya. Sambil melangkah pelan menuju masjid, Bramasta mulai membuka obrolan ringan tentang kabar orang tua Dewa, sementara Linggar terus mengoceh tentang kucing di masjid yang sering ia kasih makan. Dewa lebih banyak mendengarkan, namun di balik sikap kakunya, ia merasa sangat bersyukur. Di bawah langit Surabaya yang mulai berbintang, Dewa merasa langkah kakinya malam ini adalah langkah paling berarti yang ia ambil sejak ia menginjakkan kaki kembali di Indonesia. --- Lintang memacu Vespa kuningnya dengan kecepatan sedang, membiarkan angin sore Surabaya menerpa wajahnya yang sudah dipoles makeup tipis yang masih bertahan meski sudah dibawa muter tadi. Namun, begitu kumandang azan Magrib memenuhi angkasa, Lintang langsung mengurangi kecepatan. Suara itu seolah menjadi pengingat otomatis bagi setiap anak yang dibesarkan di lingkungan seperti keluarga Aryadinata. "Ra! Di rumah aja apa di masjid?" teriak Lintang, suaranya bersaing dengan deru mesin dan angin. "Apanya?" sahut Dira dari belakang, sedikit berteriak sambil membenahi letak tasnya. "Tidurnya! Ya salatnya lah!" Lintang membalas gemas. "Ini sudah azan!" "Masjid aja nggak sih? Itu deket juga, sekalian lewat!" Dira menunjuk ke arah masjid Al-Ikhlas yang berada tepat di gerbang depan kompleks perumahan mereka. Lintang segera membelokkan setir. Mereka beruntung, perjalanan mereka sudah sampai di sini. Setelah memarkirkan Vespa dengan rapi, Dira mendadak ragu. Ia melirik pakaian Lintang yang mengenakan celana jeans pendeknya, lalu beralih ke pakaiannya sendiri yang juga tak kalah modis tapi kurang tertutup. "Lin, tapi kamu ndak papa tah? Bajumu pendek itu," Dira memberi kode lewat lirikan mata yang khawatir. Lintang turun dari motor, merapikan kemeja kremnya yang tertiup angin. "Heleh. Orang kita pakai mukena, Ra. Toh auratnya ketutup semua nanti di dalam. Lha kamu juga itu, lupa tah sampean?" balas Lintang cuek. Dira meringis, menyadari penampilannya sendiri memang tidak lebih baik. "Ya sudahlah, ndak usah ngurusi cocote tonggo (omongan tetangga). Penting kita salat!" pungkas Lintang sambil mulai melepas sepatunya di batas suci. Keduanya segera menuju ruang wudu wanita. Air dingin yang menyentuh wajah seolah membasuh sisa-sisa emosi Lintang sejak siang tadi. Di dalam masjid, mereka mengambil mukena yang sudah tersedia. Lintang tenggelam dalam khusyuknya salat Magrib. Di balik kain putih itu, ia merasa kecil. Segala kekesalannya pada Dewa, rasa jengkel akan keriwehan seharian, dan beban deadline novelnya mendadak terasa ringan. Ia bersujud cukup lama, meminta ketenangan hati yang belakangan ini sulit ia temukan. Selesai salat, Lintang dan Dira merapikan kembali mukena ke tempatnya. Mereka berjalan keluar menuju undakan tangga tempat sepatu mereka berada. Sambil memasukkan kakinya ke dalam sepatu kets putih, Lintang menoleh pada Dira. "Ra, nginap di rumahku aja yuk? Kan Tante Laras sama Om Jiwa di Gresik. Daripada sendirian di rumah, nanti kalau ada hantu wowo lewat gimana?" canda Lintang, mencoba mencairkan suasana. Dira tertawa kecil sambil mengikat tali sepatunya. "Duh, makasih tawarannya, Lin. Tapi besok pagi aku harus berangkat pagi-pagi banget, barang-barangku di rumah semua. Berani kok aku, tenang aja." "Yakin? Kalau takut beneran, telepon ya. Telpon aja tapi, tapi nggak aku samperin." goda Lintang lagi. "Heleh. Sama aja Lintang..." Dira memukul lengan Lintang. "Mbak Lintang!" Suara cempreng itu memecah obrolan mereka. Lintang menoleh dan mendapati Linggar sedang berlari kecil menuruni tangga masjid sisi pria, sarungnya melambai-lambai lucu karena ia berlari terlalu kencang. "Eh, pelan-pelan, Linggar! Nanti jatuh!" Lintang refleks memperingatkan. Linggar berhenti tepat di depan Lintang, napasnya sedikit terengah. "Mbak Lingga salat di sini juga? Tadi Linggar sama Ayah dan Mas Dewa di sana!" Linggar menunjuk ke arah pintu utama masjid. Deg. Lintang mendongak. Di sana, di bawah cahaya lampu masjid yang kekuningan, berdiri dua pria yang paling ia kenal. Bramasta yang tersenyum teduh, dan di samping ayahnya... Sadewa. Dewa berdiri dengan sikap tubuh yang kaku namun entah kenapa terlihat sangat gagah dengan kemeja navyyang lengannya digulung rapi. Rambutnya sedikit basah karena air wudu, memberikan kesan segar yang sangat kontras dengan wajah "dingin" yang selalu ia tunjukkan. Mata mereka bertatapan. Hanya sebentar, tapi rasanya seperti ribuan kata di naskah Lintang mendadak menghilang. Lintang terpaku. Ia tidak menyangka pria "bule" yang ia maki-maki tadi siang akan berdiri di sini, di rumah Tuhan, dengan aura yang begitu tenang. Dewa juga tidak berpaling. Ia menatap Lintang yang kini sudah melepas mukena, kembali dengan pakaian outfit sorenya. Matanya sempat turun sekilas pada kaki jenjang Lintang, lalu kembali ke wajah gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan—kaku, namun tidak lagi sinis. "Eh, ada Nak Dira juga," sapa Bramasta ramah, memecah kecanggungan yang mulai pekat. "Habis salat juga ya?" "Iya, Om. Sekalian tadi lewat," jawab Dira sopan, sementara Lintang masih sibuk menenangkan detak jantungnya yang mendadak tidak karuan. "Ya sudah, ini mau pulang, kan?" Bramasta bertanya pada putrinya, tangannya mengacak rambut Linggar yang masih asyik membetulkan letak kopiahnya. "Eh, iya Yah. Tapi Lintang anterin Dira dulu," jawab Lintang sembari melirik Dira yang sudah siap di samping Vespa kuning kesayangannya. "Mbak Lintaaang! Linggar ikut! Mau naik motol kuning!" Rengekan si bungsu gembul itu tiba-tiba membelah udara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN