Samuel berdiri terpaku, matanya menatap kosong ke arah punggung Ziva yang dengan dingin menghindar darinya. Ia tak lagi mengejar, kecewa dan hancur oleh penolakan yang tersirat jelas dalam setiap gerak tubuhnya. Kedua tangannya mengepal erat, dadanya bergemuruh menahan badai emosi yang tiba-tiba menyeruak.
"Kenapa, Zi? Apa aku tidak cukup bagimu selama ini?" bisiknya, suara seraknya hampir tenggelam oleh derasnya rasa sakit.
Samuel teringat betapa ikhlasnya dirinya saat membiarkan Ziva menikah dengan Kevin, berharap wanita itu bahagia. Tapi kenyataannya, meskipun Ziva tak pernah mengumbar aib rumah tangganya, namun Samuel tahu kebahagiaan itu tidak ada. Buktinya, Ziva malah vakum dari pekerjaan yang sudah lama diimpikannya dan pada akhirnya pun berpisah dengan suaminya itu.
"Aku tidak bisa menyerah begitu saja. Sebelum ada laki-laki lain yang mengisi hatimu, aku yang akan terlebih dulu mengisi ruang itu, Zi," ujarnya, penuh tekad dalam bisikan penuh janji yang bergema di relung hati.
Di sisi lain, Ziva merasakan kekesalan yang menjalar, tidak hanya pada Samuel, tapi juga pada sosok yang kini berdiri tak jauh dari pintu kantor. Senyum manis Andra yang mengembang seolah menantang, menambah beban dalam hatinya.
"Mau ngapain lagi sih, dia?" gerutu Ziva pelan.
"Kak Ziva, akhirnya kamu keluar juga. Aku dari tadi menunggu kamu," sapa Andra, suara lembut yang menyelipkan harap dan kesabaran.
Namun Ziva membalas dengan suara dingin, "Untuk apa kamu datang ke sini? Bukannya tadi kamu bilang mau ke kantormu? Atau jangan-jangan, kamu sengaja mengikutiku?"
Andra melangkah mendekat, tatapannya serius. "Siapa juga yang mengikuti kamu? Aku memang baru dari kantor. Tapi, ini 'kan waktunya istirahat. Jadi, aku ke sini untuk ajak kamu makan siang. Mau, 'kan?"
Ziva menyipitkan mata, menantang. "Atas dasar apa aku harus terima ajakan kamu?"
Andra tersenyum tipis, nada suaranya berubah lirih namun tajam, "Atas dasar supaya kamu bisa menghindar dari laki-laki yang kemarin malam datang ke rumahmu, Kak. Kak Ziva ingat, 'kan? Aku ini pacar pura-puramu."
Mendengar hal itu, Ziva tercekat, menoleh ke arah depan. Tak jauh dari sana, Kevin berdiri diam, menatap mereka dengan mata yang menusuk.
Dalam hati Ziva bergemuruh amarah dan keputusasaan. "Mimpi apa sih, aku tadi malam? Kenapa nasibku sial banget hari ini? Tiga pria menyebalkan sekaligus, mereka sama-sama merusak mood-ku," batinnya.
Dia menghela napas panjang, mengalah demi pilihan yang tak bisa ditolak. "Ya sudah, ayo kita pergi sekarang," ucapnya, suara yang dipenuhi kepasrahan.
Andra merasa sangat senang, dia langsung saja membuka pintu mobil dan mempersilakan Ziva untuk masuk ke dalam. Setelah itu, dia menatap ke arah Kevin dengan senyum smirk, penuh kemenangan, lalu menyusul masuk ke dalam dan pergi meninggalkan tempat tersebut.
Sama seperti dirasakan Samuel, kekesalan membara di d**a Kevin saat menatap pemandangan itu. Ziva, yang selama ini terkenal dingin dan tak mudah jatuh cinta, kini tampak begitu dekat dengan Andra, pria yang bagi mereka hanyalah bocah ingusan, tak pantas bersama dengan Ziva.
***
"Samuel, dari mana saja kamu? Kenapa kamu baru pulang?" Suara Hermawan menghentikan lamunan Samuel, saat anaknya itu melangkah masuk ke dalam rumah.
"Aku baru bertemu dengan teman lama, Yah," jawab Samuel sambil melirik heran. "Ada apa? Kenapa Ayah belum tidur dan malah menungguku?"
Hermawan menatap putranya dengan wajah serius, suara berat mengisi ruang tamu, "Ya, Ayah memang sengaja menunggumu. Ada yang harus Ayan bicarakan, soal waktu yang sudah kita sepakati."
Samuel terdiam, jantungnya berdetak lebih kencang. Dia melangkah mendekat, duduk di hadapan ayahnya. "Maksud Ayah?"
"Waktu yang kamu punya untuk membuat Ziva jatuh cinta padamu sudah habis." Hermawan mengingatkan, tatapannya tajam menusuk ke dalam jiwa anaknya. "Jangan pernah lupa dengan perjanjian kita."
Dunia Samuel seketika berbalik. Kata-kata itu bukan hanya menampar, tapi mengguncang fondasi harapannya selama ini.
*
Sebulan yang lalu ...
"Sam, kamu harus mau dijodohkan dengan Sarah!" Hermawan menegaskan dengan suara berat, menanggung beban yang menggunung di dadanya.
Perjodohan itu bukan sekadar janji biasa, adalah warisan dari almarhum istrinya dan ibu Sarah, yang telah dirajut sejak Samuel dan Sarah masih kanak-kanak.
"Bulan depan, Sarah dan orang tuanya akan kembali dari luar negeri. Mereka mau melanjutkan perjodohan itu. Usia Sarah sudah semakin dewasa dan dia juga sudah menjadi seorang dokter. Dia sangat cocok untukmu." Hermawan menambahkan dengan nada penuh harap, meskipun tatapannya penuh dilema.
Namun, Samuel menggertakkan rahangnya, rasa frustrasi membakar dalam d**a. "Ayah, aku sudah bilang berkali-kali, aku sama sekali tidak pernah mencintai Sarah. Bagiku, dia hanya adikku, teman masih kecil yang tumbuh bersama, yang sudah aku anggap seperti keluarga. Sampai kapan pun aku tidak pernah berharap dia akan menjadi istriku. Yang paling terpenting, cinta tidak bisa dipaksa." Matanya menatap tajam, penuh tekad yang sudah tertanam lama. "Ayah juga tahu, siapa perempuan yang aku cintai selama ini."
"Yang kamu maksud, Ziva?" Hermawan menatap tajam anaknya, nada suaranya penuh tanya dan kekhawatiran yang mendalam. "Sudah berapa lama kamu mencintainya? Tapi selama itu, apa balasannya? Nihil. Kamu bahkan rela melihatnya menikah dengan pria lain, dan sekarang apa? Kamu tetap terjebak dalam perasaan yang sama?"
Hermawan menghela napas panjang, matanya mengandung harap yang hampir memohon. "Kenapa kamu begitu keras kepala? Apa kamu sama sekali tidak mau menuruti keinginan ibumu yang sudah tiada? Kenapa tidak berusaha membuka hati untuk perempuan lain? Kamu sudah berumur 33 tahun, Samuel! Apa mau menjadi bujang tua seumur hidup hanya karena tidak bisa memiliki wanita yang bukan jodohmu?"
Samuel menunduk, rasa cintanya pada Ziva begitu membuncah, nyaris menyesakkan d**a. "Rasa cinta ini untuk Ziva terlalu besar. Dan sekarang, Ziva sudah kembali. Dia sendiri. Dia Sudah bercerai dengan suaminya. Ini kesempatanku, Yah. Aku yakin, aku bisa mendapatkan hatinya." Suaranya bergetar dengan keyakinan yang memacu semangat.
Hermawan akhirnya mengangguk, tapi dengan ketegasan yang tak bisa diganggu gugat. "Baiklah, kamu hanya punya waktu satu bulan untuk mendekati Ziva. Tapi kalau gagal, kamu harus menikah dengan Sarah. Tidak ada toleransi lagi, Samuel."
Samuel menelan ludah dengan susah payah, wajahnya menegang. "Ya. Satu bulan, aku akan berjuang mendapatkan hati Ziva. Kalau gagal, aku akan turuti apa pun keputusan Ayah."
Detik itu, dunia Samuel serasa berdentang keras, batas waktu itu mengalir deras sebagai pengingat pahit sekaligus tantangan terbesar dalam hidupnya.
*
Perjanjian itu sudah terpatri di antara mereka, namun sebulan berlalu tanpa seujung tanda cinta dari Ziva. Samuel seolah berhadapan dengan tembok es, dengan segala usaha, hati wanita itu tetap tertutup rapat, bahkan untuk sekadar mendekat pun Ziva memilih menghindar.
"Kamu ingat janji itu, 'kan?" Hermawan bertanya dengan nada penuh harap. "Sarah dan keluarganya sudah kembali ke Indonesia."
Samuel mengangguk pelan. "Iya, aku ingat. Tapi untuk langsung menikah? Aku belum siap. Mungkin kami harus lebih mengenal dulu. Aku dan Sarah sudah lama tidak bertemu. Rasanya pasti canggung," jawabnya dengan suara berat yang nyaris tak terdengar.
Hermawan menatap tajam, namun dia mengerti. "Ya sudah, Ayah akan atur waktu untuk mengajak keluarga Sarah makan malam bersama. Kamu tidak bisa menolak."
Hanya bisa mengangguk, tubuh Samuel bergerak lemah meninggalkan kursi. Wajahnya muram, hati bergelayut antara takdir dan penolakan. Perjodohan itu baginya seperti belenggu yang mengekang dan kini satu-satunya jalan hanya mengiyakan sambil terus berjuang, berharap suatu saat Ziva membuka pintu hati untuknya.
Bersambung ...