Bab 07. Lampu Hijau

1054 Kata
Setelah masuk ke kamar, Samuel langsung mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Jari-jarinya gemetar saat membuka galeri dan di layar, terpampang wajah cantik Ziva yang selalu berhasil membuat hatinya berdetak lebih kencang. "Kenapa, Zi? Kenapa aku begitu sulit mendekatimu?" gumamnya pilu. "Aku pikir, ini adalah waktu yang tepat untuk kita bersama. Tapi kenyataannya ... kamu malah menjauh. Apa salahku? Atau mungkin ... kamu sudah menyukai laki-laki lain?" Pikiran itu menghantui Samuel ketika teringat saat Ziva dan Andra yang tampak begitu dekat tadi siang dan bahkan akhir-akhir ini, berjalan bersama tanpa canggung. "Tidak! Itu tidak mungkin!" Dia buru-buru menepis rasa cemas yang mulai merayapi hatinya. "Ziva dan Andra pasti hanya membicarakan soal pekerjaan dan pergi bersama karena soal pekerjaan juga. Ziva tidak akan memilih laki-laki yang lebih muda seperti bocah itu." Dengan napas berat, Samuel mencoba membakar kembali semangatnya. "Ayo, Samuel! Kamu pasti bisa memenangkan hati Ziva." *** Suara burung yang riang mulai menyambut pagi, bergema di balik celah ventilasi, menyelinap masuk bersama sinar mentari yang cerah, seperti memberi harapan baru bagi hati yang masih gelisah. Ziva terbangun, dia merenggangkan kedua tangannya dan saat menatap ke arah jam dinding, matanya terbelalak karena waktu sudah menunggu kan pukul 07.00 WIB. Jantung Ziva berdegup kencang. "Gawat! Ada tugas penting hari ini, kenapa aku bisa kesiangan?" Ia langsung meloncat dari tempat tidur, bergegas menuju kamar mandi dengan langkah terburu-buru. * Setelah berusaha merapikan diri secepat mungkin, walau tak sempat sarapan, Ziva melangkah ke ruang makan seperti biasa, ingin menemui orang tuanya sebelum beraktivitas. Namun, langkahnya mendadak terhenti. Ia mendengar suara yang akrab, namun bukan milik siapa pun yang seharusnya ada di rumahnya. Di ruang makan, Andini berbicara dengan sosok pria berseragam, tenang namun penuh rasa terima kasih. "Terima kasih, Ipda Andra. Saya sangat bersyukur karena anak saya bisa kembali bekerja dan dia mendapatkan rekan yang baik seperti Anda. Hati saya benar-benar lega," ucapnya dengan nada hangat namun penuh kelegaan. Andra membalas dengan senyum tulus. "Sama-sama, Tante. Tapi sebenarnya, Tante tidak perlu berterima kasih. Saya justru merasa beruntung bisa bekerja sama dengan Kak Ziva. Pekerjaan saya jadi terasa lebih ringan. Jujur, ini pertama kalinya kami bekerja bersama, tapi saya yakin Kak Ziva adalah mitra terbaik yang pernah saya miliki." Di balik ucapan itu, Ziva merasakan gelombang haru dan kebanggaan membuncah. Tanpa sadar, senyum tipis terukir di sudut bibirnya. Namun juga sebuah tanya yang mendadak menyelinap di pikirannya, kenapa Andra bisa ada di rumahnya? Apa maksud pria itu sampai begitu nekat? "Syukurlah kalau begitu. Andini menatap Andra dengan harap yang tak terbendung, suara lembutnya hampir bergetar, "Ipda Andra, tolong jaga Ziva untuk saya. Walaupun di luar dia terlihat tegas dan galak, sebenarnya hatinya rapuh sekali." Entah mengapa, kepercayaan itu mengalir begitu saja dari dalam diri Andini, seolah Andra adalah satu-satunya yang bisa diandalkan, meski mereka baru pertama kali bertemu. Sementara Andra tertegun sejenak, lalu tersenyum tipis, senang mendapatkan kepercayaan itu. "Tante, jangan panggil saya Ipda Andra. Panggil saja Andra. Saya lebih suka seperti itu, supaya kita lebih akrab." Pandangan Andra menjadi tajam namun lembut saat dia melanjutkan dengan yakin, "Soal menjaga Kak Ziva, Tante jangan khawatir. Tanpa Tante minta pun, saya pasti akan menjaganya sebaik mungkin." Janji itu menggantung di udara, berat dan penuh tekad. Namun sebelum Andini sempat membalas, tiba-tiba Ziva masuk dengan langkah cepat, matanya melotot penuh tanya. "Andra, untuk apa kamu ada di sini pagi-pagi seperti ini? Dan apa maksud pembicaraanmu dengan ibuku tadi?" Suara Ziva tajam, menusuk diam yang seketika pecah. Andra dan Andini saling bertatapan, ketegangan baru saja dimulai. Andini menatap Ziva dengan cemas, suaranya bergetar saat berusaha menjelaskan, "Ziva, Sayang, jangan salah paham dulu. Obrolan Mama dan Andra tadi benar-benar tidak ada maksud apa-apa. Wajar 'kan, Mama minta Andra jaga kamu? Kalian kerja sama, pasti sering ketemu. Lagi pula, Andra itu laki-laki, yang memang seharusnya bisa menjaga wanita. Dia juga tidak keberatan." Tapi Ziva hanya mendengus, sikapnya dingin seperti angin malam. "Nggak wajar, Ma. Kami cuma rekan kerja. Aku yang keberatan. Aku nggak perlu dijaga. Selama ini aku sudah bisa jaga diri sendiri." Matanya membelalak, penuh ketegasan yang sulit ditembus. Andini menghela napas, dia sendiri tak tahu mengapa bisa berbicara seperti itu meski maksudnya baik. Di sisi lain ia mengerti, kata-kata Ziva menamparnya lebih keras daripada kenyataan. "Oh ya, Ma, maaf hari ini aku buru-buru dan nggak sempat sarapan di rumah. Aku pergi dulu ya, Ma." Dengan gerakan cepat, Ziva menyalami dan mencium punggung telapak tangan ibunya dengan lembut. "Sayang, jangan seperti itu, dong," pinta Andini, suaranya penuh harap. "Di sini juga ada Andra, kita sarapan sebentar. Papa juga belum pulang dari rumah sakit, masa iya, kamu mau membiarkan Mama sarapan sendirian?" Namun Ziva tetap pada keputusannya, bukan soal tega tapi tanggung jawab yang sudah menanti. "Maaf, Ma. Aku ada tugas penting pagi ini. Mama ditemani Bibi dulu, ya." Kata-kata itu menjadi kalimat terakhir sebelum Ziva pergi meninggalkan ruangan tersebut. "Tante, saya pergi dulu, ya. Kapan-kapan saya mampir ke sini lagi." Andra pun ikut berpamitan dengan menyalami tangan Andini. "Iya, hati-hati Nak Andra. Cepat kamu kejar Ziva. Kalian lebih baik pergi bersama saja," kata Andini, penuh harap. "Iya, Tante," sahut Andra seraya mengangguk mantap. Andra merasa sangat senang karena serasa mendapatkan lampu hijau dari ibunya Ziva. Ia segera berlari mengejar Ziva dan untungnya, dia bisa mengejar wanita itu sebelum masuk ke dalam mobil. "Kak, aku antar kamu, ya!" seru Andra dengan penuh semangat, langkahnya mantap mendekat. Ziva menatap dingin, suaranya menusuk hati, "Siapa yang suruh kamu datang ke sini? Hubungan kita hanya sebatas rekan kerja. Jadi, jangan sok akrab seperti itu sama ibuku. Lain kali, jangan pernah mengulanginya lagi." Kalimat itu seperti pedang tajam yang menghujam di udara. Andra hanya bisa menghela napas, mencoba meredam kekecewaan yang mengganjal di d**a. "Maaf, aku hanya ingin menjemput kamu. Tapi tiba-tiba Tante Andini suruh aku masuk dan ikut sarapan. Aku tidak enak menolaknya walaupun tadinya sudah sempat menolak, jadi aku ikut saja. Tante Andini benar-benar baik, rasanya seperti dekat lagi dengan seorang ibu. Aku sudah lama tidak tinggal bersama orang tuaku," ungkapnya jujur, penuh kerinduan yang tersembunyi di balik kata-kata sederhana itu. Ziva berdiri membeku, tatapannya kosong. Ada sesuatu yang ganjil di hatinya. "Kenapa Mama bisa langsung akrab dengan Andra? Padahal aku nggak pernah membicarakan soal dia. Dan ini, baru pertama kali mereka bertemu. Kenapa Mama malah meminta Andra menjaga aku? Ini benar-benar aneh." Pertanyaan itu menggema di hatinya, membuat rasa penasaran dan curiga menguasai pikirannya. Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN