Ziva tahu, menjadi seorang intel bukan berarti takut menghadapi momen-momen yang menguji nyali. Apalagi, kini dia sedang dalam misi penyamaran yang harus sempurna tanpa cela. Namun detak jantungnya berdentang begitu keras, seolah ingin meledak dari dalam d**a. Ketegangan yang menggigit setiap serat tulangnya. Bersembunyi di balik bayangan, berpura-pura mencari seseorang di ruangan dekat situ, hatinya sudah terbelah antara harap dan cemas. Saat ia berusaha tenang, berlagak layaknya pengunjung klub biasa, sebuah tangan tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya, menariknya masuk ke dalam ruangan kosong di sebelah. Jantung Ziva seakan berhenti sejenak, napasnya tercekat. Ia pikir, inilah akhirnya, tangkapannya tak terelakkan. Tapi ketika pandangannya bertemu sosok di dekatnya, sesuatu dala

