Suasana seketika berubah tegang. Ibnu yang berdiri di antara mereka, mencoba menengahi dengan suara yang bergetar menahan ketegangan, "Maaf, Ipda Andra, Bu Ziva … saya tidak bermaksud ikut campur urusan pribadi kalian. Tapi, kita punya tugas yang sangat penting malam ini. Jangan sampai penyamaran ini berakhir sia-sia tanpa hasil," ujarnya dengan nada penuh tekanan. Ziva menghela napas panjang, menekan amarah yang menggunung dalam d**a, lalu berusaha memusatkan perhatian pada misi. "Baik, Ipda Ibnu. Saya minta maaf. Sekarang, saatnya kita jalankan rencana B yang sudah kita sepakati," katanya dengan suara dingin, tegas. Raut penasaran terpancar di wajah Andra. "Rencana apa?" tanyanya, suaranya penuh keingintahuan sekaligus kegelisahan. Ziva menatap Andra tanpa berkedip, suaranya datar men

