Ziva berjalan mondar-mandir di depan ruang operasi, jantungnya berdetak tak karuan, seolah siap meledak di dalam d**a. Ketakutan dan kecemasan menguasai seluruh dirinya. Di sana, dalam balutan dingin ruang operasi, Andra, pria yang begitu dicintainya, berjuang antara hidup dan mati. Berita dari telepon tadi, membuat dunia Ziva runtuh dalam sekejap. Tanpa pikir panjang, di tengah dinginnya malam, dia langsung melesat ke rumah sakit, tak mampu menunggu sampai esok hari untuk tahu nasib kekasihnya. "Bu Ziva, sebaiknya Anda duduk coba tenang dan bersabar." Suara Ibnu lembut, mencoba menenangkan Ziva yang kian terpuruk. "Bagaimana mungkin saya bisa tenang dia saat nyawa Andra masih tergantung di ujung pisau?!" Ziva menolak duduk, wajahnya pucat dan suara bergetar tak tertahankan. "Maaf kalau

