Ziva mengernyit, hatinya bergetar saat dokter wanita itu melontarkan pertanyaan yang terasa jauh dari sekadar tanya biasa. Meski pertanyaan itu terdengar wajar, ada sesuatu dalam tatapan dokter wanita tersebut yang menusuk. Seolah dia tengah dicurigai, bahkan dihakimi. Perasaan aneh itu menggulung pikirannya, terutama saat sadar betapa dokter itu tampak peduli pada Andra lebih dari sekadar kewajiban profesi. Mungkin, Ziva berusaha menenangkan dirinya, dokter itu memang hanya khawatir pada pasien yang akan ditanganinya. Bisa jadi, dia dokter yang bertugas bergantian dengan dokter malam yang sudah pulang. Bayangan-bayangan itu terus berputar dalam benak Ziva, belum juga mereda ketika suara lembut tapi tegas sang dokter kembali menyapanya. "Kamu, Kak Ziva, ya? Pacar Kak Andra?" Kening Ziv

