Andini menggenggam erat kedua tangannya, berjuang menahan amarah yang mendadak muncul di d**a saat suara dingin sang mantan besan menyeruak seperti duri yang menyakitkan. Ya, memang selama ini ibunya Kevin itu selalu menganggapnya bukan siapa-siapa. Tidak gaul, tidak punya teman sosialita, hanya karena dirinya lebih sering di rumah atau sibuk di butik. Namun ada hal yang tak pernah diketahui oleh wanita itu, tidak penting juga baginya untuk menjelaskan. Melihat Andini hanya diam saja, suara Laras menyelonong kembali, menusuk telinga, "Heh, Jeng Andini! Saya ini sedang bicara sama kamu. Jangan pura-pura budek!" Kata-kata itu melayang penuh ejekan, seperti bara api yang kian menyulut api amarah di hati Andini. Kesabarannya yang selama ini dipertahankan mulai retak dan dalam sekejap, ia ban

