Byantara memilih diam, memberi ruang. Ia menunggu dengan sabar, seolah apa pun yang akan disampaikan Meylin layak didengar sepenuhnya. Padahal jauh di dalam hatinya, ada rasa ingin tahu yang sejak tadi berdesak. Namun ia menahannya. Kali ini, ia tidak ingin tergesa. Tidak ingin merusak keberanian Meylin dengan sikap yang salah. Untuk pertama kalinya, Byantara belajar bahwa mencintai bukan hanya tentang ingin tahu segalanya, melainkan tentang menjaga perasaan orang yang sedang mempercayakan hatinya padanya. Meylin mengangguk pelan, seolah sedang menguatkan dirinya sendiri. Lalu ia mulai bercerita, suaranya lembut namun jujur, tanpa berusaha menutup-nutupi apa pun. “Andi… adalah kekasihku saat aku kuliah di luar negeri,” ucapnya. “Kami bersama cukup lama.” Ia menunduk sejenak, lalu mela

