Pintu rumah terbuka pelan. Meylin yang sejak tadi menunggu langsung berdiri. Ia melangkah mendekat, menerima tas kerja dari tangan Byantara tanpa diminta. “Mas sudah pulang,” ucapnya lembut. Byantara menoleh, sedikit terkejut, lalu tersenyum kecil. “Iya.” Ia melirik ke arah ruang makan. Meja sudah tertata rapi. Aroma masakan memenuhi rumah. “Ibu sudah menunggu,” kata Meylin sambil menunjuk ke arah ruang makan. Byantara mengangguk, mencuci tangan, lalu bergabung. Ibu Sarah sudah duduk di sana. Wajahnya cerah melihat Byantara datang. “Capek ya, nak Byan?” sapanya ramah. “Tidak, Bu. Terima kasih sudah menunggu,” jawab Byantara sopan. Mereka duduk bertiga. Lampu makan memancarkan cahaya hangat, membuat suasana terasa akrab. Tidak ada obrolan berat, hanya cerita ringan, tentang taman,

