Ucapan itu membuat napas Byantara sedikit tertahan. Janji. Satu kata yang selalu diungkit Dewi setiap kali ia merasa curiga dan cemburu. Satu kata yang dulu dianggap ringan, tapi sekarang terasa seperti jerat yang membuatnya lelah. Perlahan, Byantara meletakkan sendoknya. Gerakannya tenang, tapi tatapan matanya mulai mengeras. “Dewi,” ucapnya rendah. “Jangan bawa-bawa masalah itu lagi.” “Tapi itu kenyataannya,” sahut Dewi cepat, seolah takut kalah langkah. “Kamu sudah janji… Kita tinggal menunggu. Kamu sendiri yang bilang pernikahanmu ini cuma sementara. Bukankah suatu saat kamu akan kembali padaku, Byan?” “Cukup.” Nada Byantara kali ini tegas, memutus, dingin. Dewi sampai terdiam karena ekspresi datar di wajahnya jarang sekali ia lihat, bahkan hampir tidak pernah. “Saat itu semu

