Meylin tertegun. Seketika wajahnya yang tadi cerah berubah sendu. Jemarinya yang memegang kotak makan itu melemah, seperti kehilangan kekuatan. Ia tidak pernah menyangka pertanyaannya yang ia kira wajar, ditanggapi sedingin itu. “Aku… aku tidak bermaksud begitu, Mas,” jawab Meylin perlahan. “Aku hanya ingin tahu apakah masakanku kurang enak. Aku hanya ingin memperbaiki…” “Terserah,” potong Byantara pendek. “Aku tidak suka diinterogasi seperti ini. Aku sudah capek.” Hening langsung memenuhi ruangan. Berat. Menekan. Meylin menunduk, menelan perih yang tiba-tiba menusuk dadanya. Jelas-jelas ia sedang dituduh melakukan sesuatu yang bahkan tidak terlintas di kepalanya. “Maaf, Mas…” ucapnya lirih, nyaris berbisik. “Saya tidak bermaksud membuat Mas tidak nyaman.” Byantara mengusap wajahn

