98. Tamu yang Tak Diundang

1189 Kata

Meylin tersenyum ramah, sama sekali tanpa rasa curiga. Sikapnya tetap lembut, bahkan cenderung terbuka, seolah perempuan di hadapannya itu hanyalah tamu biasa yang kebetulan singgah. “Oh, silakan duduk,” ujar Meylin sambil mempersilakan Dewi masuk ke teras. “Maaf kalau rumah agak berantakan.” “Tidak apa-apa,” jawab Dewi cepat, senyumnya manis, meski matanya sibuk mengamati sekeliling rumah itu. Rumah yang seharusnya menjadi miliknya, batinnya mendesis. Mereka mengobrol sejenak. Meylin bercerita ringan tentang kesehariannya, sementara Dewi dengan piawai mengarahkan pembicaraan, mencari celah tanpa terlihat memaksa. Hingga akhirnya Dewi membuka identitasnya. “Sebenarnya… aku ...,” ujarnya dengan nada seolah santai. “Aku ambassador di perusahaan Mas Byantara.” Meylin terlihat sedikit ter

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN