Sarah tentu menyambut baik saat Byantara menyampaikan keinginan Meylin. Wajah perempuan paruh baya itu langsung melunak, kelegaan yang selama ini ia tahan akhirnya terlihat jelas. Matanya berkaca-kaca saat menatap putri semata wayangnya, lalu ia menggenggam tangan Meylin dengan hangat, seolah memastikan gadis itu benar-benar ada di hadapannya. “Kalau itu maumu, Nak, ibu senang sekali,” ujar Sarah lembut. “Ibu juga lebih tenang kalau kamu sementara tinggal di sini. Setidaknya ibu bisa melihatmu setiap hari.” Risma yang berdiri di sisi lain ikut mengangguk setuju. “Iya, Mey. Biar ibu juga bisa sering menengokmu,” katanya tulus. “Kamu jangan sungkan ya, anggap saja kita semua keluarga.” Meylin tersenyum kecil dan mengangguk pelan. Entah mengapa, berada di dekat ibunya membuat dadanya ter

