Byantara berdiri lama di depan pintu ruang kerjanya sebelum memutuskannya untuk keluar. Ia sebenarnya ingin kembali ke kamar, mandi, mengganti pakaian, dan bersiap ke kantor, rutinitas seperti yang biasa dia lakukan sehari-hari. Namun hari ini… setiap langkah seolah berat seperti menapak di atas pecahan kaca. Ia takut. Takut melihat Meylin. Takut melihat luka yang ia buat dengan tangannya sendiri. Bagaimana aku harus menatapnya setelah semua itu…? Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya. Ia menghela napas dalam-dalam, lalu membuka pintu perlahan. Koridor rumah itu terasa asing dan sunyi, seolah ikut menghakimi dirinya. Namun ketika ia hendak menuju tangga naik, mendadak sebuah aroma lembut menyentuh hidungnya. Aroma masakan. Byantara berhenti. Langkahnya membeku. Dengan rag

