Pagi itu, mobil melaju perlahan meninggalkan halaman rumah. Udara masih terasa sejuk, namun suasana di dalam mobil justru penuh kecanggungan yang berat. Byantara membuka pintu mobil untuk Meylin, hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Meylin sempat terkejut, tapi tetap masuk tanpa komentar. Meylin memang perempuan yang pintar menyimpan perasaan dan pintar mengontrol diri. Saat ia hendak memasang seatbelt, Byantara tiba-tiba menunduk, mengambil alih. “Biar aku saja,” ucapnya lirih. Gerakan itu membuat jarak mereka hanya sejengkal. Aroma sabun mandi Byantara menyentuh indera Meylin, sementara Byantara bisa melihat jelas wajah Meylin yang agak, pucat namun tetap terlihat cantik dan lembut. Jari Byantara sempat gemetar ketika mengunci seatbelt itu, lalu ia cepat-cepat mundur. “Sud

