Dewi menatap layar laptop di hadapannya dengan pandangan kosong. Ruangan itu masih sama, putih, dingin, dan profesional, namun hatinya tidak lagi berada di sana. “Kontrakmu sebenarnya bisa diperpanjang,” ujar pria di seberang meja, nada suaranya datar tapi persuasif. “Kami ingin kamu tetap di sini. Posisi baru, proyek yang lebih besar.” Dewi menarik napas dalam. Tawaran itu dulu akan membuatnya tersenyum bangga. Dulu. “Maaf,” potongnya akhirnya, suaranya tenang tapi tegas. “Saya tidak bisa.” Pria itu terdiam sejenak. “Kamu yakin? Ini kesempatan langka.” “Aku yakin,” ulang Dewi, kali ini tanpa ragu. “Aku harus pulang ke Indonesia.” Keputusan itu terasa seperti menjatuhkan sesuatu yang selama ini ia genggam erat, karier, ambisi, pelarian. Tapi untuk pertama kalinya, Dewi sadar, ia tida

