Byantara keluar dari kamar mandi sambil mengusap rambutnya dengan handuk. Ia berniat langsung mengenakan kemeja kerjanya, tetapi langkahnya terhenti ketika melihat Dewi sudah berdiri di lorong, menatapnya dengan tatapan yang jelas-jelas bukan tatapan orang yang baru selesai bertengkar. Gaun tidur tipis Dewi menempel pada tubuhnya, memperlihatkan lekuk yang sengaja ia tonjolkan. Tatapannya berbinar, seperti seseorang yang melihat harapan terakhirnya. “Byan… aku rindu kamu.” Tanpa menunggu jawaban, Dewi langsung melangkah cepat dan memeluk pinggang Byantara, menempelkan tubuhnya yang hangat pada d**a Byantara yang masih telanjang. Byantara terpaku. Tidak tahu harus bergerak ke mana. Tidak tahu harus berkata apa. “Aku tidak mau ribut lagi… jangan bahas hal-hal kecil yang memisahkan kit

