Malam itu berlalu dalam keheningan yang nyaris sempurna. Angin dari celah jendela berhembus lembut, menyinggahi tirai dan menggoyangkan bayangannya di dinding kamar. Meylin menatap sisi ranjang yang kosong di sampingnya, tempat di mana seharusnya suaminya berbaring. Hanya desah napasnya sendiri yang terdengar, menggantikan suara langkah berat yang tidak kunjung datang. Ia menarik napas panjang, mencoba menelan kekecewaan yang menyesak di d**a. “Mungkin Mas Byan memang pria yang berpikir panjang sebelum bertindak,” gumamnya lirih, seolah berusaha menenangkan dirinya sendiri. “Mungkin… dia hanya menunggu sampai perasaannya ikut bicara, baru mau melaksanakan kewajibannya sebagai seorang suami.” Senyum malu sempat melintas di wajahnya. “Aku malah terlihat seperti perempuan yang tidak s

