Pagi itu, setelah Byantara selesai memberi beberapa arahan pada mandor tukang tentang pekerjaan yang masih harus diselesaikan, Meylin menghampirinya dan berjalan bersisian sampai ke depan mobil. “Mas Byan!” panggil Meylin tepat sebelum Byantara membuka pintu mobil. Langkah Byantara terhenti. Ia menoleh, mendapati Meylin berdiri di bawah cahaya pagi yang lembut, wajahnya tampak segar dengan riasan tipis, tapi cukup untuk membuatnya terlihat menawan tanpa banyak berusaha. “Ada apa?” tanyanya datar. Sejak pagi, kekaguman yang sempat tumbuh di dadanya terus ia tekan. Ia harus ingat janjinya pada Dewi. Ia tidak boleh goyah. “Bolehkah aku minta satu kamar lagi untuk aku jadikan studio?” tanya Meylin dengan suara lembut. “Studio?” alis Byantara terangkat. “Maksudmu?” “Aku… hobi melukis, Mas

