Namun belum sempat ia meletakkan ponselnya, dering telepon itu kembali berbunyi. Nama Dewi kembali berkedip di layar, seolah perempuan itu tidak berniat menyerah begitu saja. Byantara memejamkan mata, menarik napas panjang. Rahangnya mengeras. Ia tahu, jika ia mengabaikan telepon itu lagi, keadaan justru akan semakin buruk. Dengan berat hati, ia menggeser tombol hijau dan mengangkatnya. “Apa maksudmu, Byan?” suara Dewi terdengar bergetar, campuran antara marah, takut, dan terluka. “Apakah setelah aku bersabar selama ini, kamu hanya ingin memutuskan hubungan kita begitu saja?” Suara Dewi bergetar semakin keras, hampir mencapai nada histeris. “Apa kamu pernah mencintaiku?” Byantara menutup mata, meremas jembatan hidungnya. Kepalanya terasa berdenyut hebat. “Dewi, tolong dengarkan aku

