Setelah beberapa saat hanya terdengar isak dan napas terputus-putus, Dewi menyeka air matanya dengan kasar. Wajahnya masih basah, bibirnya bergetar menahan sakit yang menyesakkan d**a. “Tidak… tidak bisa seperti ini,” gumamnya lirih. Tangannya mengepal erat, kukunya menekan ke telapak tangan hingga terasa perih. “Aku tidak bisa kehilangan dia begitu saja.” “Aku sudah bersamanya bertahun-tahun… masa semuanya berakhir seperti ini hanya karena perempuan itu?” ucapnya dengan suara pecah. Dewi menatap pantulan dirinya di cermin kamar, wajah yang biasanya begitu anggun dan percaya diri kini tampak rapuh dan berantakan. Namun di balik mata yang sembab itu, perlahan muncul kilatan tekad. “Aku… kali ini terpaksa harus merendahkan diri,” bisiknya pelan, hampir seperti mengaku pada dirinya se

