Di matamu, Dia tidak pernah Salah

1065 Kata
Suara engsel pintu yang berputar memecah lamunan Aira, membuatnya tersentak hebat seolah baru saja disengat aliran listrik. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuk dengan ritme yang menyakitkan. Di ambang pintu, Bastian berdiri tegak, memancarkan aura d******i yang seketika membuat ruangan luas itu terasa sempit dan menyesakkan. Pria itu melangkah masuk tanpa menoleh sedikitpun ke arah tempat tidur yang berantakan, saksi bisu dosa semalam, seolah kekacauan di sana adalah hal yang lumrah. Dengan gerakan santai yang sarat akan arogansi, Bastian mulai menanggalkan pakaian tidurnya. Piyama sutra hitam pekat itu jatuh ke lantai, satu per satu, menampakkan punggung tegap dan otot-otot yang menegang sempurna. Aira memalingkan wajah, menunduk dalam-dalam hingga dagunya menyentuh d**a. Ia memakukan pandangannya pada lantai marmer yang dingin, menolak melihat lebih jauh, menolak membayangkan sentuhan tangan lain yang mungkin masih tertinggal di kulit pria itu. Ia hanyalah bayangan di ruangan ini, sebuah eksistensi yang tidak berhak memiliki rasa cemburu, apalagi harga diri. Bunyi kecipak air terdengar saat Bastian menenggelamkan dirinya ke dalam bathtub porselen yang telah dipenuhi air hangat dan busa beraroma sandalwood. Uap panas mulai memenuhi ruangan, menciptakan kabut tipis yang justru menambah kesan kelam alih-alih menenangkan. Tanpa perlu diperintah, tubuh Aira bergerak otomatis layaknya boneka mekanik yang telah diprogram ulang. Ia melangkah mendekat, berlutut di sisi bathtub dengan lutut yang terasa ngilu menyentuh lantai keras. Tangannya meraih spons lembut, dan ia mulai menggosok punggung Bastian. Gerakannya ritmis, terukur, namun kosong tanpa jiwa. Keheningan melingkupi kamar mandi itu, sebuah kesunyian yang terasa berat dan mencekik. Tidak ada suara selain gesekan spons pada kulit dan gemericik air yang sesekali timbul akibat gerakan Bastian. Aira menahan nafasnya, berusaha meminimalisir keberadaannya. Ia takut suara nafasnya yang gemetar akan mengganggu ketenangan tuannya. Namun, semakin ia berusaha tenang, semakin hebat tubuhnya berkhianat. Rasa lapar yang mendera sejak kemarin, ditambah kelelahan fisik dan guncangan batin melihat keintiman Bastian dengan wanita lain, membuat pertahanannya runtuh. Tangannya mulai gemetar. Getaran halus itu merambat dari jemari hingga ke bahunya, membuat gosokan di punggung Bastian menjadi tidak stabil. Bastian merasakannya. Getaran rapuh yang menjalar di punggungnya itu menghentikan kenikmatan mandi air hangatnya. Ia diam sejenak, membiarkan Aira bergulat dengan kegugupannya sendiri, sebelum akhirnya ia berbalik secara tiba-tiba. Air berkecipak keras, tumpah membasahi lantai dan sebagian seragam pelayan Aira. Aira tersentak mundur, namun ia tetap menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik tirai rambut yang jatuh menutupi sisi wajah. Ia menunggu bentakan, atau mungkin tamparan, namun yang datang adalah kesunyian yang jauh lebih menakutkan. "Lihat aku," perintah Bastian. Suaranya rendah, datar, namun memiliki daya tekan yang tak terbantahkan. Aira tidak bergerak. Ketakutan telah memaku lehernya. Bastian mendengus kasar. Tangan basahnya terulur, menyentuh pipi Aira. Sentuhan itu terasa kontras, jari-jari Bastian yang hangat dan basah bertemu dengan kulit wajah Aira yang dingin dan pucat. Aira berjengit kaget, refleks tubuhnya menolak sentuhan itu seolah-olah kulit Bastian adalah bara api. Reaksi penolakan itu memantik kilatan gelap di mata Bastian. Tanpa peringatan, tangannya turun, mencengkeram dagu Aira dengan kuat, memaksa gadis itu mendongak. Cengkeraman itu tidak cukup kuat untuk mematahkan tulang, namun cukup menyakitkan untuk menegaskan siapa yang berkuasa. "Kau kurus sekali," gumam Bastian, matanya menelusuri wajah tirus Aira dengan tatapan menilai, seolah sedang menaksir harga barang rongsokan. "Tulang pipimu menonjol tajam. Sepertinya kau kurang gizi. Kau benar-benar gembel.” Kalimat itu diucapkan dengan nada menghina yang begitu kental. Aira mencoba memutus kontak mata, namun Bastian mempererat cengkeramannya, mengunci wajah gadis itu agar tetap menghadapnya. "Jangan alihkan pandanganmu saat aku bicara, ini perintah," desis Bastian. Mata mereka bertemu. Di dalam manik mata hitam Bastian, Aira melihat pantulan dirinya sendiri yang menyedihkan. Namun, Bastian melihat sesuatu yang lain. Ia melihat pupil yang melebar, napas yang tersengal, dan genangan air mata yang tertahan. Ia melihat ketakutan murni yang telanjang. Sudut bibir Bastian terangkat membentuk senyum miring yang kejam. "Tatapan itu..." bisik Bastian, mendekatkan wajahnya hingga Aira bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu di wajahnya. "Matamu menyiratkan ketakutan yang luar biasa. Persis seperti ini." Bastian terdiam sejenak, menikmati kepanikan yang mulai menjalar di wajah Aira. "Tatapan ini mengingatkanku pada si miskin bodoh itu saat diseret keluar dari ruang pengadilan. Saat palu hakim diketuk, dan seluruh hidupnya di sista. Matanya persis sepertimu saat ini. Kosong, putus asa, namun memohon belas kasihan yang tidak akan pernah datang." Aira mematung. Dadanya sesak bukan main. Ia tahu siapa yang dimaksud Bastian. Ingatan tentang hari kehancuran Bastian kembali berputar di kepalanya bagai kaset rusak. Rasa malu dan sakit hati bercampur aduk, namun ia tidak bisa lari. Bastian melepaskan cengkeramannya di dagu Aira dengan gerakan menghempas, membuat wajah gadis itu tertoleh ke samping. Pria itu kembali bersandar pada bathtub, tampak puas telah berhasil mengorek luka lama yang belum kering. Ia mengambil segenggam air, membasuh wajahnya dengan santai, seolah baru saja membicarakan cuaca dan bukan kehancuran hidup seseorang. Namun, siksaan itu belum selesai. Bastian menoleh kembali, menatap sisi wajah Aira yang masih menunduk gemetar. Suaranya kali ini terdengar lebih ringan, namun justru di situlah letak bahayanya. "Ah, bicara soal pengadilan dan masa lalu," ujar Bastian santai, matanya berkilat licik. “Pasti kau ingin tahu kabar 'beliau', bukan? Tuan besar yang dulu begitu agung hingga tak sudi menatapku." Jantung Aira berhenti berdetak sesaat. Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap Bastian dengan campuran rasa takut dan harap yang menyakitkan. "Kau tidak ingin tahu kabar Wiranata yang terhormat?" tanya Bastian pelan, sebuah pertanyaan yang menggantung di udara seperti guillotine yang siap dijatuhkan. Tatapan Aira memancarkan rasa ingin tahu. Jelas, ia ingin sekali tahu kabar ayahnya. Apakah operasinya berjalan lancar, apakah kondisinya saat ini jauh lebih baik. “Kau sangat mencintainya, ya.” Suara Bastian dingin, menakutkan. “Dimatamu dia tidak pernah salah. Ah, tidak… nyatanya kalian sama. Sama-sama menjijikkan. Sama-sama tidak punya hati.” Bastian semakin kuat menjepit dagu Aira, lalu melanjutkan, “omong-omong hati, aku juga sudah tidak memilikinya. Kau dan si tua bangka itu membuatku percaya, di dunia ini, hati tak punya fungsi.” Aira menangis, tak kuasa menahan air mata. Bastian menyalah artikan air mata itu, ia berkata, “air mata palsu ini akan terlihat asli oleh si bodoh Bastian yang sudah mati dalam sel saat di siksa oleh para napi. Kau tahu? Sebelum mati pun, dia masih memikirkanmu. Menyedihkan sekaligus memuakkan, bukan.” Aira tidak menjawab. Bastian mengikis jarak, mengecup bibir Aira. Aira membeku. Dan saat ingin menarik diri. Bastian justru menciumnya, dalam dan kelam. Ciuman pertama setelah lima tahun lamanya. ‘Aku akan menghancurkan mu tanpa sisa dengan cara paling hina, Aira. Itu sumpahku!’ Batin Bastian. Ciuman pun berubah…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN