Bastian merenggut bibir Aira dengan sebuah gerakan yang jauh dari kata lembut; itu adalah sebuah tumbukan, sebuah invasi yang sarat akan amarah dan d******i mutlak. Tidak ada romansa di sana, tidak ada kehangatan yang menjanjikan perlindungan. Yang ada hanyalah rasa sakit yang nyata, kasar, dan menuntut. Bastian menciumnya seolah ingin menghukum, seolah ingin menghapus keberadaan Aira melalui sentuhan yang meremukkan. Bibir pria itu bergerak liar, menekan dan menggigit tanpa belas kasihan, memaksa Aira untuk membuka mulut dan menerima seluruh rasa frustrasi yang telah dipendam Bastian selama bertahun-tahun. Rasa asin darah samar-samar terasa di ujung lidah, bercampur dengan aroma sandalwood dan maskulinitas Bastian yang memabukkan sekaligus mencekik. Aira tidak melawan. Tubuhnya yang sem

