Suasana di dalam ruang rapat eksekutif itu terasa jauh lebih mencekam daripada penjara bawah tanah mana pun yang bisa dibayangkan Aira. Pendingin ruangan yang berembus kencang seolah tak mampu mengusir hawa panas yang menjalar di wajahnya, bukan karena demam, melainkan karena rasa malu yang membakar hingga ke ulu hati. Pak Handoko, pria paruh baya dengan perut membuncit dan tatapan mata yang basah menjijikkan, sedari tadi tidak melepaskan pandangannya dari Aira. Pria tua itu terang-terangan menelanjangi Aira dengan matanya, mengabaikan fakta bahwa Aira berdiri di sana sebagai notulen rapat, memeluk papan jalan dengan jemari yang memutih saking eratnya. "Siapa sangka pekerja club itu ternyata putri tunggal Wiranata, saya baru tahu sepulang dari club. Saya dengar keluarga Wiranata meningga

