Denting lonceng lift memecah keheningan penthouse yang sejak tadi hanya diisi oleh suara detak jarum jam dan desis masakan di atas kompor.
Aira membeku di samping meja makan. Tangannya yang baru saja selesai menata piring porselen kini meremas ujung apron putihnya. Jantungnya berdegup tidak karuan. Bukan karena antusias menyambut majikan pulang, melainkan ketakutan akan permainan mental apa lagi yang akan disuguhkan malam ini.
Pintu lift terbuka.
Suara tawa manja seorang wanita terdengar lebih dulu, melengking renyah, kontras dengan atmosfer penthouse yang biasanya dingin seperti kuburan.
"Sayang, sumpah kau jahat sekali tadi di meeting! Muka klien mu sampai pucat gitu," ujar wanita itu di sela tawanya.
Aira menunduk dalam-dalam, menaati 'Aturan Nomor Satu'. Dia melihat sepasang sepatu kulit pria yang mengkilap melangkah keluar, diikuti oleh sepasang stiletto merah menyala yang mengetuk lantai marmer dengan irama percaya diri.
"Mereka pantas mendapatkannya," jawab suara bariton yang sangat Aira kenal. Suara yang dulu selalu berbisik lembut di telinganya sebelum tidur, kini terdengar begitu asing saat merespons wanita lain dengan nada santai.
Langkah kaki mereka mendekat. Aroma parfum mahal, campuran mawar dan vanila, langsung menyeruak, mendominasi udara, mengalahkan bau masakan Aira. Itu aroma uang. Aroma kepercayaan diri. Aroma wanita yang dicintai.
"Duduklah," perintah pria itu. Bukan pada Aira, tentu saja.
"Wah, view-nya gila sekali!" seru wanita itu. "Dan makanannya sudah siap? Romantis sekali!”
"Hanya makan malam sederhana. Jangan berlebihan."
Aira masih menunduk, tapi dari sudut matanya, dia bisa melihat wanita bernama Clara itu. Tinggi, langsing, dengan rambut cokelat bergelombang yang indah. Dia mengenakan gaun malam merah yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Cantik. Sangat cantik.
Jenis kecantikan yang membuat Aira merasa seperti tikus got yang nyasar ke istana.
"Eh?"
Suara Clara terhenti. Aira merasakan tatapan wanita itu jatuh padanya.
"Siapa dia?" tanya Clara, nadanya berubah sedikit tajam. Ada jejak posesif di sana.
"Aku pikir kau tidak suka mempekerjakan asisten rumah tangga yang menginap?"
Hening sejenak. Aira menahan napas. Apa jawaban Elvano? Mantan kekasih? Tawanan?
"Cuma pelayan," jawab Elvano datar. Nada bicaranya seolah sedang membicarakan perabot rumah tangga yang tidak penting. "Dia satu paket dengan gedung ini saat kubeli. Gajinya murah.”
Satu paket. Murah.
Kata-kata itu menghantam ulu hati Aira, tapi dia tidak bergeming. Wajahnya tetap datar, topeng yang sudah ia latih selama lima tahun terakhir.
"Oh," Clara terkekeh pelan, nada suaranya kembali rileks, meremehkan. "Kirain siapa. Bajunya... unik ya. Agak terlalu seksi buat pembantu, nggak sih?"
"Itu biar dia nggak lupa posisinya," sahut Elvano santai.
"Duduklah."
Suara kursi ditarik. Mereka duduk.
"Tuangkan wine-nya," perintah Elvano dingin.
Aira bergerak. Kakinya terasa berat, seolah ada rantai besi yang membelenggunya. Dia mengambil botol Cabernet Sauvignon yang sudah dibuka, membalut leher botol dengan kain serbet, lalu berjalan mendekati meja.
Dia harus menuangkan untuk Clara lebih dulu.
Saat Aira mendekat, dia bisa mencium aroma tubuh Elvano yang bercampur dengan parfum Clara. Bau perselingkuhan, meski Aira sadar dia tidak punya hak untuk merasa diselingkuhi. Mereka sudah selesai. Lima tahun lalu.
Tangan Aira sedikit gemetar saat menuang cairan merah pekat itu ke gelas Clara.
"Hei, hati-hati!" tegur Clara tiba-tiba.
Aira tersentak. Tidak ada tetesan yang tumpah, tapi teguran itu membuatnya panik. "M-maaf, Nona."
Clara menatapnya dari atas ke bawah dengan tatapan menilai yang menjijikkan. Tatapan seorang ratu pada b***k. "Tanganmu kotor tidak? Aku tidak mau gelas mahal ini kena kuman."
"Bersih.”
"Sudah, biarkan saja," potong Elvano. Dia tidak menatap Aira, sibuk memotong daging di piringnya. "Dia memang agak lamban dan bodoh. Makanya cuma cocok jadi babu."
Aira beralih ke sisi Elvano. Menuangkan wine ke gelas pria itu. Jarak mereka begitu dekat. Aira bisa melihat rahang tegas itu bergerak saat mengunyah. Dulu, Aira suka mengecup rahang itu. Sekarang, dia bahkan tidak berani bernapas terlalu keras di dekatnya.
"Cukup," kata Elvano saat gelasnya terisi setengah.
Aira mundur kembali ke sudut ruangan, berdiri mematung di kegelapan, menjadi penonton bisu dari adegan romantis yang menyakitkan.
Sepanjang makan malam, Aira dipaksa menyaksikan neraka duniawinya. Clara yang terus-menerus menyentuh lengan Elvano. Clara yang menyuapkan potongan daging ke mulut Elvano,dan Elvano menerimanya, meski matanya menatap lurus ke arah Aira yang berdiri di pojok.
Tatapannya kosong, tapi menusuk. Seolah berkata… Lihat? Posisimu sudah digantikan. Dan penggantimu jauh lebih baik.
"El, dagingnya agak alot," keluh Clara manja, padahal itu Wagyu A5 yang dimasak sempurna. "Potongin tolong..."
Elvano tersenyum tipis, senyum palsu yang hanya dikenali Aira.
"Tanganmu sakit?"
"Maksudku biar romantis!"
Elvano menghela napas, lalu menoleh ke arah Aira. "Ke sini."
Aira melangkah maju. "Ya, Tuan?"
"Potongkan daging untukClara," perintahnya.
Aira tertegun. Potongkan daging? Dia bukan babysitter.
"Kau dengar tidak?" suara Elvano meninggi satu oktaf.
"Baik."
Aira mengambil pisau dan garpu dari tangan Clara. Dia membungkuk di samping wanita itu, mulai mengiris daging di piring. Posisi ini merendahkan sekali. Wajahnya sejajar dengan d**a Clara. Dia bisa mencium seringai kemenangan dari wanita itu.
"Potong kecil-kecil ya," perintah Clara seenaknya, sengaja menguji kesabaran. "Aku tidak suka ngunyah yang besar-besar. Nanti lipstikku rusak."
Aira menurut. Mengiris daging itu kecil-kecil seperti makanan balita. Perasaannya sudah kebas. Dia membayangkan daging itu adalah hatinya sendiri yang sedang dia cincang.
Saat Aira hendak meletakkan pisau, Clara tiba-tiba menggerakkan siku, "tidak sengaja" menyenggol lengan Aira.
Piring bergeser. Saus gravy muncrat, mengenai gaun merah mahal milik Clara. Sedikit, hanya setitik noda kecil, tapi reaksi Clara seolah dia baru saja disiram air keras.
"ASTAGA!" Clara menjerit, berdiri dan mendorong Aira hingga Aira terhuyung ke belakang. "Baju ku! Kau buta ya?!"
"M-maaf... Nona yang menyenggol saya..." bela Aira refleks.
Prang!
Elvano membanting gelas wine-nya ke meja. Isinya tumpah ruah, membanjiri taplak meja putih menjadi merah darah.
Keheningan total menyelimuti ruangan.
"Apa kau baru saja menyalahkan tamuku?" suara Elvano rendah, tapi getarannya membuat bulu kuduk berdiri.
Aira menunduk, gemetar. "T-tidak... saya..."
"Berlutut," perintah Elvano.
Mata Clara membelalak senang. Aira menatap Elvano tak percaya.
"Kubilang berlutut. Minta maaf pada Clara."
Aira menggigit bibir bawahnya sampai berdarah. Harga dirinya memberontak. Dia tidak salah. Dia tahu Elvano pun tahu dia tidak salah. Elvano melihat semuanya.
Tapi kemudian, bayangan ayahnya di rumah sakit kembali muncul. Tagihan. Mesin ventilator.
Perlahan, lutut Aira menyentuh lantai dingin. Dia menundukkan kepala di depan kaki Clara yang beralaskan stiletto mahal.
"Maafkan saya, Nona," suara Aira parau, nyaris hilang. "Saya ceroboh. Saya salah."
Clara mendengus, mengibaskan tangannya seolah mengusir lalat. "Ganti rugi, El! Gaun ini limited edition dari Paris!"
Elvano berdiri, berjalan menghampiri Clara, merangkul pinggang wanita itu. Matanya namun tetap terkunci pada sosok Aira yang bersimpuh di lantai.
"Tenang saja. Aku belikan sepuluh gantinya besok," kata Elvano, lalu menatap Aira dengan jijik. "Bersihkan kekacauan ini.”
"Kita pindah ke kamar saja," ajak Elvano pada Clara, suaranya sengaja dibuat berat dan menggoda. "Di sini bau sampah."
Clara terkikik senang, menggelayut manja di lengan Elvano sambil melangkah menuju tangga.
Aira tetap berlutut, menatap lantai marmer yang kini memantulkan bayangannya yang menyedihkan. Dia mendengar langkah kaki mereka menaiki tangga. Dia mendengar pintu kamar utama terbuka.
Dan sedetik sebelum pintu itu tertutup, dia mendengar suara Elvano lagi, keras dan jelas, ditujukan untuk menghancurkan sisa kewarasan Aira.
"Jangan ganggu kami. Semalaman."
Pintu tertutup.
Aira runtuh. Dia tidak menangis. Air matanya sudah kering. Dia hanya menatap noda wine merah di taplak meja yang menyebar seperti luka yang terus berdarah.
Di lantai atas, Elvano menyandarkan tubuhnya ke pintu yang baru saja dia tutup. Dia melepaskan rangkulan Clara dengan kasar, membuat wanita itu bingung.
"El?"
"Tidur di kamar tamu," perintah Elvano dingin, hasrat di matanya lenyap seketika, digantikan oleh kekosongan yang gelap.
"Hah? Tapi tadi katanya—"
"Kubilang keluar. Sekarang!" bentak Elvano.
Dia tidak bisa menyentuh wanita lain. Tidak saat bayangan Aira yang berlutut dengan mata terluka itu masih membakar retinanya. Dia ingin menyiksa Aira, tapi kenapa rasanya dia sendiri yang sedang terbakar di neraka ini?