"Tundukkan pandanganmu."
Suara itu tidak keras, bahkan cenderung datar, namun cukup untuk membekukan darah Aira. Garpu perak yang baru saja hendak diletakkannya di sisi piring berdenting nyaring beradu dengan porselen, memecah kesunyian ruang makan yang mencekam.
Aira tersentak. Refleks, dia menarik tangannya kembali dan menunduk dalam-dalam, menatap ujung sepatu hak tinggi yang dipinjamkan Elvano, sepatu yang membuat betisnya kram karena sudah berdiri tegak selama dua jam penuh.
"Maaf," cicit Aira.
Elvano duduk di ujung meja makan marmer panjang itu sendirian. Di hadapannya, tersaji steak medium rare dengan mashed potato dan tumis asparagus yang dimasak Aira dengan tangan gemetar.
Pria itu tidak langsung memakan hidangannya. Dia meletakkan serbet di pangkuan dengan gerakan lambat dan elegan, lalu meraih gelas anggur merahnya. Matanya yang tajam menatap Aira dari balik bibir gelas kristal itu. Tatapan yang menelanjangi.
"Kau tahu kenapa aku menyuruhmu menunduk?" tanya Elvano dingin.
Aira menggeleng pelan, masih menatap lantai. "Tidak."
"Karena aku muak," jawab Elvano. Dia meletakkan gelasnya dengan kasar hingga isinya sedikit tumpah. "Aku muak melihat mata itu. Mata yang dulu menatapku penuh cinta, tapi di pengadilan menatapku seolah aku sampah. Mata pembohong."
Hati Aira mencelos. Rasa perih kembali mengiris dadanya. ‘Mataku tidak pernah berbohong, Bas. Bahkan di pengadilan itu, aku menangis di dalam hati’ Tapi pembelaan itu hanya tersangkut di tenggorokan.
"Mulai detik ini, catat baik-baik di otak kecilmu itu," lanjut Elvano, suaranya tajam mengiris udara. Dia mengambil pisau dan garpu, mulai memotong daging di piringnya dengan gerakan agresif.
"Aturan nomor satu: Dilarang melakukan kontak mata." Elvano menusuk potongan daging itu kuat-kuat.
"Setiap kali kau berada di hadapanku, tundukkan kepalamu. Lihat kakiku, lihat lantai, lihat dinding, aku tidak peduli. Tapi jangan pernah berani-berani menatap mataku kecuali aku yang memerintahkannya. Aku tidak sudi melihat bayangan diriku terpantul di mata penghianat sepertimu."
Aira meremas apron putih kecil di pinggangnya. "B-baik, Tuan. Saya mengerti."
"Bagus. Aturan nomor dua," Elvano mengunyah pelan, menelan makanannya tanpa ekspresi, seolah dia sedang menilai racun.
"Dilarang bicara kecuali ditanya."
Aira mendongak sedikit karena kaget, tapi segera menunduk lagi saat sadar dia melanggar aturan pertama. "Tapi... bagaimana jika ada hal penting? Misalnya…"
Prang!
Elvano melempar pisaunya ke piring. Bunyi denting keras itu membuat bahu Aira melonjak kaget.
"Apa aku memberimu izin untuk bicara?" bentak Elvano.
Aira langsung membungkam mulutnya rapat-rapat. Tubuhnya gemetar hebat.
"Kau itu di sini bukan sebagai tamu, bukan sebagai teman, apalagi kekasih," desis Elvano. Dia tidak berteriak, tapi intonasinya penuh penekanan yang menakutkan. "Kau adalah properti pelunasan hutang. Kau itu sama seperti meja ini, seperti kursi ini, seperti lampu hias itu. Benda mati tidak bicara. Benda mati tidak punya opini. Benda mati hanya berfungsi saat pemiliknya membutuhkannya."
Elvano mengambil kembali pisaunya, melanjutkan makannya dengan tenang seolah ledakan amarah tadi tidak pernah terjadi. Perubahan emosinya yang drastis membuat Aira ngeri. Bipolaritas ini... ini bukan Bastian yang ia kenal. Penjara dan pengkhianatan benar-benar telah mengubahnya menjadi monster.
"Aturan nomor tiga," Elvano melanjutkan tanpa menoleh. "Kau wajib mengenakan apa saja yang kuberikan. Tidak ada penolakan, tidak ada rasa malu. Jika aku menyuruhmu memakai karung goni, kau pakai. Jika aku menyuruhmu polos melayaniku makan malam, kau lakukan. Hak atas tubuhmu sudah kau jual seharga dua miliar."
Aira memejamkan mata, menahan air mata yang mendesak keluar. Dua miliar. Demi Ayah. Mantra itu ia ulang terus menerus di kepalanya agar dia tidak ambruk.
Suasana kembali hening. Hanya terdengar denting alat makan dan suara kunyahan Elvano. Aira berdiri mematung di samping meja, perutnya perih melilit karena lapar. Dia belum makan seharian. Aroma daging panggang dan saus jamur yang ia masak sendiri kini menyiksa indera penciumannya.
Elvano makan dengan lambat, sangat lambat. Dia menyisakan setengah porsi steak-nya, lalu mendorong piring itu menjauh.
"Selesai," katanya datar. "Bereskan."
Aira bergerak cepat. Kakinya yang pegal terasa nyeri setiap melangkah, tapi dia mengabaikannya. Dia meraih piring kotor itu.
Tanpa sengaja terdengar bunyi krucuk pelan dari perut Aira. Suara alami tubuh yang tidak bisa diajak kompromi.
Wajah Aira memerah padam karena malu.
"Lapar?" tanya Elvano, nadanya terdengar mengejek.
Aira diam, berusaha menahan diri dari rasa malu karena ketahuan menahan lapar.
"Jawab," perintah Elvano.
"Ya, Tuan," jawab Aira lirih.
"Kau makan itu," kata Elvano santai. Dia menunjuk sisa makanan di piring kotor itu dengan dagunya.
Mata Aira berbinar sedikit. Sisa makanan Elvano bukanlah masalah baginya. Dulu saat pacaran, mereka sering berbagi satu piring nasi goreng berdua.
"Terima kasih.” Aira segera membereskan. Saat akan membawa piring tersebut ke dapur, Elvano kembali bersuara.
"Siapa bilang kau boleh membawanya ke dapur?" potong Elvano.
Aira terhenti. "Maksudmu?”
Elvano menyandarkan punggungnya di kursi, melipat tangan di d**a. Matanya berkilat dengan kepuasan sadis.
"Makan di sini. Sekarang."
Aira menatap piring di tangannya, lalu menatap meja makan. "Baik." Dia hendak menarik kursi kosong di seberang Elvano.
"Ah, ah, ah," Elvano mendecakkan lidah, menggoyangkan jari telunjuknya. "Siapa yang mengizinkanmu duduk di meja makanku? Kursi itu harganya lima puluh juta. Kau bisa mengotorinya dengan baumu.”
Darah Aira mendesir dingin. Dia mulai mengerti arah pembicaraan ini.
Elvano menunjuk ke bawah. Ke lantai marmer dingin di samping kaki kursinya.
"Di situ. Seperti hewan peliharaan yang manis."
Aira mematung. Napasnya tercekat di tenggorokan. Ini bukan lagi soal aturan majikan dan pelayan. Ini soal penghinaan. Elvano ingin menghancurkan sisa-sisa harga diri Aira, meratakannya dengan tanah.
"Kenapa diam?" desak Elvano. "Kau bilang kau akan melakukan apa saja demi ayahmu, kan? Atau kau mau aku menelepon rumah sakit sekarang dan menyuruh mereka mencabut selang oksigennya karena putrinya terlalu sombong untuk makan di lantai?"
Ancaman itu selalu berhasil.
Tangan Aira gemetar hebat saat dia perlahan menekuk lututnya. Lututnya yang lebam membentur lantai keras. Dinginnya marmer menembus kain tipis rok maid-nya.
Dia meletakkan piring sisa Elvano di lantai. Tanpa sendok. Tanpa garpu.
"Makan," perintah Elvano dari atas.
Aira menunduk, menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata. Dengan tangan gemetar, dia mengambil potongan daging dingin itu dengan jarinya, lalu menyuapkannya ke mulut.
Rasanya hambar. Rasa daging mahal itu tertutup oleh rasa asin air matanya sendiri dan rasa pahit di lidahnya. Dia mengunyah sambil menahan isak tangis agar tidak bersuara.
Dari atas, Elvano memperhatikannya. Aira tidak bisa melihat wajah Elvano karena dia menunduk, tapi dia bisa merasakan tatapan pria itu. Apa yang Aira tidak tahu adalah, Elvano tidak sedang tersenyum puas. Pria itu justru mencengkeram lengan kursinya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras menahan gejolak emosi yang rumit.
Melihat wanita yang dulu dipujanya seperti ratu kini makan di bawah kakinya seperti pengemis, seharusnya membuat Elvano puas. Seharusnya ini adalah balas dendam yang manis. Tapi kenapa rasanya justru seperti menelan paku? Kenapa dadanya sesak melihat bahu kurus Aira berguncang menahan tangis?
Jangan lemah, Elvano, batinnya berteriak. Wanita ini yang mengirimmu ke neraka. Dia pantas mendapatkan ini. Dia pantas hancur. Elvano berdiri tiba-tiba, membuat kursi berdecit keras. Aira tersentak, menghentikan kunyahannya.
"Berhenti,” kata Elvano kasar, padahal Aira baru suapan kedua.
"Buang sisanya. Cuci piring. Lalu siapkan air mandiku."
Elvano melangkah pergi meninggalkan ruang makan tanpa menoleh lagi. Aira menatap punggung tegap itu menjauh. Dia menatap sisa daging di piring. Dia masih sangat lapar, tapi dia tidak berani melanggar perintah.
Dengan tertatih, Aira bangkit membereskan meja.
*
Satu jam kemudian.
Aira masuk ke kamar mandi utama. Uap hangat memenuhi ruangan, beraroma lavender dan musk. Bathtub marmer putih berukuran raksasa sudah terisi air hangat dengan buih sabun yang melimpah.
"Airnya sudah siap, Tuan," lapor Aira tanpa menatap mata Elvano yang sedang duduk di tepi ranjang, melepas jam tangannya.
"Bagus," jawab Elvano. Dia berdiri, mulai membuka kancing kemejanya satu per satu.
Aira segera berbalik badan, berniat keluar dari kamar mandi.
"Mau ke mana?"
Langkah Aira terhenti. "Saya... saya menunggu di luar..."
"Siapa yang menyuruhmu keluar?"
Jantung Aira berdegup kencang. Dia berbalik perlahan, tetap menunduk menatap lantai basah. Elvano sudah melepas kemejanya, menyisakan d**a bidang berotot yang dihiasi beberapa bekas luka samar, luka yang dia dapat di penjara.
"Tugasmu belum selesai," kata Elvano, suaranya menggema di dinding kamar mandi. Dia berjalan mendekati bathtub, lalu menoleh pada Aira.
"Gosok punggungku."
Permintaan itu terdengar wajar untuk seorang pelayan pribadi di zaman kuno, tapi bagi Aira dan sejarah hubungan mereka, ini adalah siksaan mental level selanjutnya. Menyentuh kulit Elvano tanpa boleh melibatkan perasaan? Itu mustahil.
"Baik," jawab Aira parau.
Elvano melepas sisa pakaiannya tanpa ragu di depan Aira, memaksa Aira memejamkan mata erat-erat, lalu masuk ke dalam air hangat.
"Mata dibuka, Aira. Bagaimana kau bisa bekerja dengan mata tertutup?" sindir Elvano.
Aira membuka matanya perlahan. Dia mengambil spons mandi, menuangkan sabun cair, lalu berlutut di tepi bathtub. Tangan Aira gemetar saat menyentuh punggung lebar Elvano. Kulit pria itu terasa panas dan keras. Otot-otot punggungnya menegang saat spons Aira menyentuhnya.
Keheningan di kamar mandi itu begitu intim namun mematikan. Hanya suara kecipak air dan napas Aira yang tertahan.
Gerakan tangan Aira sampai di bahu kiri Elvano. Di sana, ada sebuah bekas luka bakar berbentuk lingkaran yang tidak rapi. Bekas sundutan rokok. Jari Aira terhenti di sana. Tanpa sadar, dia mengusap luka itu dengan ibu jarinya, melupakan sponsnya.
"Luka ini..," bisik Aira tanpa sadar, melupakan aturan nomor dua. Terdengar nada mengasihani
Tubuh Elvano menegang kaku. Dia menangkap pergelangan tangan Aira yang basah dengan gerakan secepat kilat, lalu menariknya kuat-kuat hingga wajah Aira mendekat ke wajahnya.
Air di bathtub bergolak tumpah.
"Kau berani mengasihaniku?" geram Elvano. Jarak mereka hanya beberapa sentimeter. Mata Elvano yang basah oleh uap air menatap Aira dengan kemarahan yang berapi-api. "Luka ini aku dapat di minggu pertama penjara. 'Hadiah' perkenalan dari teman satu selku karena aku menolak menjadi kacung mereka. Dan kau tahu apa yang kupikirkan saat kulitku terbakar?"
Aira menggeleng ketakutan, air matanya menetes jatuh ke air mandi.
"Aku memikirkanmu," bisik Elvano getir. "Aku berpikir, mungkin rasa sakit ini setimpal dengan rasa sakitmu ditinggal kekasih kriminal. Bodoh sekali aku waktu itu."
Elvano menghempaskan tangan Aira.
"Keluar."
Aira terisak pelan.
"KELUAR!" bentak Elvano, memukul air hingga menciprat membasahi seragam Aira. "Keluar sebelum aku menenggelamkanmu di sini!"
Aira bangkit berdiri dengan susah payah, terpeleset sedikit karena lantai licin, lalu berlari keluar dari kamar mandi seperti orang dikejar setan. Dia berlari menuruni tangga, masuk ke dalam gudang sempitnya, dan mengunci pintu.
Di dalam kegelapan, Aira merosot di balik pintu. Dia menangis hebat, memeluk lututnya yang gemetar. Dia tidak menangisi nasibnya. Dia menangisi Bastian. Luka di punggung itu... luka di matanya... semua itu karenanya.
‘Aku yang menciptakan monster itu’ batin Aira pilu. ‘Dan sekarang monster itu akan memakanku hidup-hidup’
Sementara itu, di lantai atas, Elvano masih berendam dalam air yang mulai mendingin. Dia menenggelamkan kepalanya ke dalam air, berteriak bisu di sana, mencoba memadamkan api kerinduan yang bodohnya masih menyala setiap kali Aira menyentuhnya.
Dia membenci Aira. Dia harus membencinya.
Tapi kenapa sentuhan tangan wanita itu di bekas lukanya tadi terasa lebih menyembuhkan daripada obat apapun yang pernah ia beli dengan uang miliaran rupiah?
Elvano muncul ke permukaan, menghirup napas rakus. Matanya menatap pintu kamar mandi yang tertutup.
"Besok..." gumamnya pada kesunyian. "Besok aku akan pastikan kau tidak punya tenaga lagi untuk menyentuhku dengan tangan lembut itu."
Elvano menyeringai, sebuah rencana baru terbentuk di kepalanya. Rencana hukuman yang akan menguji batas fisik Aira hingga titik nadir.