Aku Baca Buku Harianmu

1430 Kata

Jam dinding berdetak. Suara itu terdengar seperti palu hakim yang memvonis mati, berulang-ulang, menghantam gendang telinga Bastian di tengah keheningan ruang kerjanya yang terkunci. Di atas meja mahoni yang mengkilap, buku harian usang itu masih terbuka. Halaman itu basah. Tinta dari tulisan tangan Aira lima tahun lalu sedikit melebar terkena air mata Bastian, air mata seorang pria yang baru saja menyadari bahwa dia telah membunuh malaikat pelindungnya sendiri. Bastian menatap nanar paragraf terakhir itu. "Bas, sampai mati aku mencintaimu. Selalu." Napas Bastian tercekat, tersangkut di tenggorokan yang terasa seperti dipenuhi pecahan kaca. Dia meremas dadanya sendiri, tepat di jantungnya. Rasanya sakit. Bukan sakit fisik, melainkan rasa sakit yang hampa, seolah-olah jiwanya baru saj

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN