Langkah kaki Bastian terdengar berat dan berirama, menghantam lantai marmer foyer bagaikan dentang lonceng kematian. Setiap langkahnya mengikis keberanian Sucipto yang tadinya meluap-luap. Bastian tidak langsung menatap Sucipto. Fokus matanya terkunci sepenuhnya pada wanita yang sedang berdiri gemetar dengan wajah pucat pasi di anak tangga terbawah. Tanpa bicara, Bastian melangkah melewati Sucipto seolah pria tua itu hanyalah onggokan sampah tak kasat mata. Dia mendekati Aira. "Bas..." cicit Aira, air matanya tumpah ruah begitu melihat benteng perlindungannya datang. Bastian langsung menarik Aira ke dalam pelukannya. Dia mendekap kepala Aira ke d**a bidangnya, menutupi telinga wanita itu dengan telapak tangannya yang besar, seolah ingin menyaring semua kata-kata kotor yang baru saja di

