Kontrak Penghinaan untuk Aira

1406 Kata
"Elvano..." Aira mengulang nama itu di lidahnya. Rasanya asing, pahit, dan salah. Bibirnya masih bergetar hebat di bawah cengkeraman jari-jari pria itu. Kulit Bastian, tidak, Elvano, terasa panas di kulitnya yang dingin, sebuah kontras yang membuat Aira ingin muntah karena ketakutan sekaligus kerinduan yang bodoh. Pria itu melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar, seolah menyentuh Aira adalah sebuah dosa yang mengotori tangannya. Dia mundur selangkah, mengambil sapu tangan sutra dari saku jasnya, lalu mengelap jari-jarinya yang tadi menyentuh dagu Aira. Dia mengelapnya perlahan, jari demi jari, matanya tak lepas menatap Aira dengan jijik. Kemudian, dia membuang sapu tangan mahal itu ke tempat sampah di samping meja kerja. Gerakan sederhana itu menghancurkan Aira lebih telak daripada tamparan fisik. "Kau terlihat berantakan, Nona Wiranata," ujar Elvano datar. Dia berjalan kembali ke kursinya, duduk dengan gaya angkuh, satu kaki menyilang di atas lutut, punggung bersandar santai, seolah dia adalah raja yang sedang mengadili b***k pembangkang. "Seragam cleaning service itu... sangat cocok denganmu. Jauh lebih pantas daripada gaun Chanel yang biasa kau pamerkan dulu." Aira menunduk, menyembunyikan tangannya yang kasar dan kapalan di balik punggung. "Apa mau Anda, Tuan?" "Tuan?" Elvano tertawa. Tawa yang kering, tanpa humor. "Dulu kau memanggilku 'sayang', 'cintaku', atau kadang 'Bastian bodoh' saat aku membelikanmu martabak pinggir jalan dengan uang saku terakhirku. Sekarang 'Tuan'? Cepat sekali kau beradaptasi dengan posisimu yang baru." "Bastian, tolong..." "Don't say that name!" bentak Elvano. Suaranya menggelegar, memantul di dinding-dinding kaca penthouse. Aira tersentak mundur, tubuhnya menabrak dinding di belakangnya. Dia melihat d**a bidang Elvano naik turun menahan amarah. Urat-urat di leher pria itu menonjol, memperlihatkan betapa tipisnya benang kendali yang ia miliki saat ini. "Bastian Pradipta sudah mati," desis Elvano, suaranya kini merendah, lebih berbahaya. Dia berdiri lagi, berjalan perlahan mendekati Aira. Langkah kakinya senyap di atas karpet tebal, tapi tekanannya mencekik udara. "Dia mati lima tahun lalu, di sel penjara nomor 402. Dia mati saat dipukuli oleh tiga narapidana suruhan ayahmu. Dia mati kedinginan di lantai beton sambil meneriakkan namamu, berharap kau datang menyelamatkannya. Tapi kau tidak datang, kan?" Elvano berhenti tepat satu jengkal di depan Aira. Dia menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Aira. Bau whisky dan mint menerpa wajah Aira, memabukkan sekaligus mematikan. "Kau justru sibuk berpesta merayakan pertunanganmu dengan pria lain, sementara aku muntah darah di penjara," bisik Elvano. Air mata Aira akhirnya jebol. Tidak. Itu tidak benar, teriak batinnya. Aku tidak berpesta. Aku menangis di kamar mandi sampai mataku bengkak. Aku menjual kalung warisan Ibu untuk membayar sipir agar tidak membunuhmu malam itu. Tapi Aira tidak bisa mengatakannya. Lidahnya kelu. Janji pada ayahnya, ancaman itu, masih menghantuinya. Jika Bastian tahu Aira masih mencintainya, Bastian mungkin akan melakukan hal nekat yang membahayakan nyawanya sendiri. Atau lebih buruk, ayahnya yang gila kuasa itu punya 'asuransi' rahasia yang bisa mencelakai Bastian bahkan setelah jatuh miskin. Jadi, Aira memilih diam. Biarkan dia membenci. Kebencian membuat Bastian tetap hidup. Kebencian memberinya api untuk bangkit menjadi monster sukses seperti sekarang. "Maaf..." hanya itu yang keluar dari bibir Aira. Kata yang paling tidak berguna di dunia. "Maaf?" Elvano mendengus. Dia berbalik, berjalan menuju meja bar mininya. Menuang gelas baru. "Simpan maafmu. Itu tidak laku di sini." Suasana hening sejenak. Hanya terdengar suara es batu beradu dengan gelas kristal. Aira merasa harus pergi. Berada di satu ruangan dengan Elvano terlalu menyakitkan. Dia berbalik menuju pintu lift. "Jika tidak ada yang Tuan perlukan lagi, saya permisi. Saya masih harus bekerja." "Siapa yang mengizinkanmu pergi?" Suara Elvano menghentikan langkah Aira tepat saat tangannya menyentuh tombol lift. "Berbalik," perintah Elvano. Aira menurut. Tubuhnya bergerak otomatis, sisa-sisa refleks ketakutan yang terbangun selama lima tahun hidup miskin di mana dia harus patuh pada siapa saja yang punya uang. Elvano sedang menyesap minumannya, matanya menelanjangi Aira dari kejauhan. Menilai seragamnya yang kedodoran, sepatunya yang solnya sudah mau lepas, dan wajahnya yang pucat tanpa riasan. "Kudengar Bank Wiranata likuidasi total," ujar Elvano santai, seolah sedang membicarakan cuaca. "Ayahmu, Tuan Wiranata yang agung itu, sekarang jadi sayur di rumah sakit kumuh. Ibumu meninggal karena serangan jantung setahun lalu. Dan kau... putri mahkota Jakarta... sekarang membersihkan toilet bekas kencing orang mabuk." Elvano meletakkan gelasnya. "Menyedihkan. Karma bekerja sangat efisien, bukan?" Aira menggigit bibir bawahnya sampai berdarah. Dia tidak boleh menangis lagi. Dia tidak boleh terlihat lemah. "Ya. Karma memang adil," jawab Aira pelan, suaranya serak tapi tegas. "Saya pantas mendapatkan ini. Puas?" Jawaban itu sepertinya bukan yang diharapkan Elvano. Kilatan marah melintas di matanya. Dia tidak ingin Aira menerima nasib. Dia ingin Aira melawan. Dia ingin melihat api yang dulu ada di mata gadis itu. "Belum," jawab Elvano dingin. "Aku belum puas." Dia mengambil sebuah amplop cokelat dari laci mejanya dan melemparkannya ke atas meja kopi di tengah ruangan. "Duduk." Aira ragu-ragu, lalu berjalan pelan dan duduk di ujung sofa kulit yang dingin. Dia tidak berani menyandar. Dia merasa kotoran di bajunya akan menodai kemewahan sofa itu. "Apa ini?" tanya Aira, melirik amplop itu. "Tagihan," jawab Elvano singkat. Aira mengernyit. Tangannya gemetar saat meraih amplop itu dan membukanya. Di dalamnya ada setumpuk dokumen rumah sakit. Mata Aira membelalak saat melihat kop surat 'RS Medika'. Ini adalah rincian biaya perawatan ayahnya selama tiga bulan terakhir, ditambah estimasi biaya operasi bypass jantung yang harus dilakukan segera. Total tagihan yang tertunggak dan yang harus dibayar: Dua Miliar Seratus Juta Rupiah. Bagaimana Bastian, maksudnya Elvano, bisa memiliki ini? "Rumah sakit itu milik salah satu anak perusahaanku sekarang," kata Elvano, menjawab pertanyaan di kepala Aira sebelum sempat terucap. "Manajemen lapor padaku ada pasien di bangsal kelas 3 yang menunggak parah tapi tetap dipertahankan karena permohonan putrinya yang katanya 'akan membayar segera'. Ternyata pasien itu adalah musuh bebuyutanku." Kertas di tangan Aira bergetar hebat. "Tolong..." Aira mendongak, matanya basah, menatap Elvano dengan putus asa. Harga dirinya runtuh seketika. Demi ayahnya. Demi satu-satunya keluarga yang ia miliki. "Tolong jangan usir Ayah saya. Dia akan mati kalau alat-alatnya dicabut. Saya janji akan membayarnya. Saya akan kerja lembur. Saya akan cari pinjaman..." "Pinjaman?" potong Elvano dengan nada mencemooh. "Siapa yang mau meminjamkan dua miliar pada cleaning service? Ginjalmu saja kalau dijual tidak akan cukup." Aira terdiam. Kata-kata itu menohok tepat di jantung. Dia memang tidak punya apa-apa lagi. Elvano berdiri, berjalan mengelilingi sofa, lalu berhenti tepat di belakang Aira. Dia membungkuk, bibirnya menyentuh telinga Aira, hembusan nafasnya hangat namun membuat bulu kuduk berdiri. "Tapi aku seorang pebisnis, Aira. Aku tidak suka membuang aset, meskipun aset itu sampah," bisik Elvano. "Aku bisa melunasi semua hutang itu malam ini juga. Aku bisa memindahkan ayahmu ke ruang VVIP, memberinya dokter terbaik dari Singapura, dan menjamin dia hidup nyaman." Harapan mekar di d**a Aira, menyakitkan saking besarnya. "Apa... apa syaratnya? Aku akan lakukan apa saja. Apa saja, Bastian. Kumohon." Elvano menegakkan tubuhnya, berjalan kembali ke depan Aira agar bisa melihat wajah putus asa wanita itu dengan jelas. Senyum miring yang kejam terukir di bibirnya. "Apa saja?" ulang Elvano. "Ya. Apa saja." Aira mengangguk cepat. Dia siap jika harus menjadi b***k seumur hidup tanpa gaji. Dia siap jika harus dipenjara menggantikan ayahnya. Elvano menatapnya lama. Tatapan itu bukan tatapan nafsu, tapi tatapan pemilik yang sedang menilai barang dagangan baru. Tatapan yang membuat Aira merasa dirinya tak lebih dari seonggok daging. "Bagus," kata Elvano. Dia merogoh saku jas dalamnya, mengeluarkan sebuah dokumen lain yang lebih tipis. Dia meletakkannya di samping dokumen tagihan rumah sakit tadi. "Tanda tangani ini." Aira membaca judul dokumen itu. Matanya menyipit, mencoba memahami kata-kata hukum yang tertera di sana. PERJANJIAN KEPEMILIKAN DAN PELUNASAN HUTANG Aira membaca poin-poin di dalamnya dengan napas tertahan. Pihak Kedua (Aira Wiranata) bersedia menyerahkan seluruh hak asasi, kebebasan, dan pengambilan keputusan hidupnya kepada Pihak Pertama (Elvano) sebagai jaminan atas pelunasan hutang sebesar Dua Miliar Rupiah. Pihak Kedua wajib tinggal di kediaman Pihak Pertama. Melayani segala kebutuhan Pihak Pertama tanpa terkecuali, baik domestik maupun biologis, kapanpun diminta. Pihak Kedua dilarang meninggalkan kediaman tanpa izin, dilarang menghubungi pihak luar tanpa pengawasan, dan dilarang menolak perintah apapun. Masa berlaku kontrak: Sampai Pihak Pertama merasa bosan. Aira tersentak. Dia menatap Elvano dengan horor. "Ini... ini gila. Kau ingin menjadikanku pelacurmu?" "Bukan p*****r," koreksi Elvano dingin. Matanya berkilat tajam, gelap seperti malam tanpa bintang. "p*****r dibayar setelah melayani. Kau? Kau sudah dibayar di muka dengan nyawa ayahmu." Elvano melempar sebuah pena emas ke atas meja. Suaranya berdenting nyaring di kesunyian ruangan. "Pilihanmu sederhana, Sayang. Tanda tangan kontrak itu dan jadilah mainanku, atau keluar dari pintu itu sekarang juga, dan aku pastikan ventilator ayahmu dicabut dalam sepuluh menit." Elvano melirik jam tangan mewahnya, lalu menatap Aira dengan senyum iblis yang mematikan. "Waktumu satu menit. Mulai dari sekarang."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN