Perlu Aku yang Merobeknya Paksa?

1027 Kata
"Tiga puluh detik." Suara Elvano terdengar seperti vonis hakim agung, datar dan tanpa emosi. Dia mengetukkan jari telunjuknya ke permukaan meja kaca, ritme yang pelan namun sukses membuat jantung Aira berdegup menyakitkan. Pria di hadapannya sama sekali bukan seperti manusia. Dan terlebih bukan seperti pria yang pernah ia kenal. Ponsel Aira yang tergeletak di meja tiba-tiba menyala lagi. Bergetar hebat, seolah menjerit minta tolong. Layarnya yang retak menampilkan nama 'Dr. Prasetyo'. Aira menatap layar itu dengan mata membelalak. Itu dokter spesialis yang menangani ayahnya. Dokter itu tidak pernah menelpon malam-malam kecuali untuk kabar buruk. Jantungnya berpacu lebih cepat dari biasa. "Angkat," perintah Elvano dingin. Dia menyandarkan punggungnya, menikmati pemandangan Aira yang pucat pasi. "Dengarkan sendiri bagaimana suara nyawa ayahmu yang sedang meregang." Dengan tangan gemetar hebat, Aira menggeser tombol hijau. Dia menempelkan ponsel ke telinganya. Bersiap mendengar kabar paling buruk. "Halo, Dok?" suaranya tercekat. "Mbak Aira! Bapak collapse! Jantungnya berhenti berdetak dua menit yang lalu. Kami sedang melakukan CPR, tapi tanpa persetujuan tindakan lanjutan dan deposit dana, kami tidak bisa memasang alat pacu jantung permanen. Prosedur rumah sakit melarang…” Suara di seberang sana tenggelam oleh bunyi bip panjang dari mesin EKG yang terdengar di latar belakang. Bunyi kematian. "AYAH!" Aira menjerit. Air mata langsung membanjiri wajahnya. "Dokter, tolong! Lakukan apa saja! Jangan berhenti! SAYA MOHON!" "Mbak, kami butuh jaminan sekarang juga atau kami hentikan resusitasi…” Aira mematikan sambungan telepon. Dia tidak sanggup mendengar lagi. Dia melempar ponselnya ke sofa dan langsung menyambar pena emas yang tadi dilemparkan Elvano. Tidak ada waktu untuk berpikir. Tidak ada ruang untuk harga diri. Di kepalanya, hanya ada bayangan ayahnya yang dulu selalu menggendongnya di pundak saat ia kecil, ayah yang menyisir rambutnya saat ibunya meninggal. Meskipun ayahnya melakukan kejahatan pada Bastian, dia tetap ayahnya. Dan Aira sangat mencintai ayahnya. Dia hanya memiliki pria itu di dunia ini. "Aku tanda tangan! Aku tanda tangan!" seru Aira histeris. Ujung pena itu menyentuh kertas. Tangan Aira gemetar begitu hebat hingga tanda tangannya terlihat seperti cakar ayam yang jelek, jauh dari tanda tangan elegan yang dulu ia bubuhkan dicek jutaan rupiah. Goresan tinta hitam itu terasa permanen. Seperti menorehkan luka di kulitnya sendiri. Tapi apa pedulinya sekarang? Yang penting ayahnya selamat. Ayahnya ditangani. Dia tidak akan membiarkan ayahnya mati begitu saja! Demi Tuhan, tidak! Sret. Aira melepaskan pena itu seolah benda itu membakar jarinya. Dia mendorong dokumen kontrak itu ke arah Elvano dengan napas memburu. "Sudah," isak Aira, tubuhnya merosot berlutut di lantai karpet. Dia menangkupkan kedua tangannya di depan d**a, memohon pada pria yang kini menjulang di atasnya seperti dewa kematian. "Sudah kutandatangani. Sekarang tolong... selamatkan dia. Telepon rumah sakit itu, Elvano. Kumohon, cepat!" Elvano tidak langsung bergerak. Dia mengambil dokumen itu dengan santai, memeriksa tanda tangan Aira sejenak, lalu meniupnya pelan seolah memastikan tintanya kering. Senyum tipis yang mengerikan terbit di bibirnya. "Anak yang berbakti," gumamnya sinis. Dia mengambil ponselnya sendiri, menekan satu tombol speed dial. "Halo?" suara Elvano berubah berwibawa. "Ya, ini saya. Pasien di ICU nomor 3 atas nama Wiranata. Lakukan operasi bypass terbaik. Pasang alat pacu jantung tercanggih. Pindahkan ke VVIP Suite segera setelah dia stabil. Tagihannya kirim ke kantor saya besok pagi." Hening sejenak. "Ya. Lakukan sekarang. Jangan sampai dia mati. Dia mainan berhargaku untuk menyiksa putrinya." Tanpa takut Elvano mengatakan itu. Elvano memutus sambungan telepon. Aira menangis lega. Bahunya berguncang hebat. Dia masih berlutut di lantai, merasa seluruh tenaganya tersedot habis. Ayahnya selamat. Itu yang terpenting. Dia telah menjual jiwanya, tapi setidaknya ayahnya masih bernapas. "Terima kasih..." bisik Aira lirih. Dia menyeka wajahnya yang basah dengan lengan seragamnya yang kotor. "Terima kasih, Tuan." Aira mencoba berdiri, meski kakinya terasa seperti jeli. "Saya... saya harus ke rumah sakit sekarang. Saya harus melihat kondisi Ayah setelah operasi." Dia berbalik, melangkah tertatih menuju pintu lift. Pikirannya sudah melayang ke ruang tunggu ICU. Dia ingin memegang tangan ayahnya. Namun, langkahnya terhenti oleh suara berat yang menusuk. "Siapa bilang kau boleh pergi?" Aira membeku. Dia menoleh pelan. Elvano masih berdiri di tempat yang sama, tapi auranya kini jauh lebih gelap. Dia memasukkan dokumen kontrak itu ke dalam laci mejanya, lalu menguncinya. Bunyi klik kunci itu terdengar seperti pintu sel penjara yang ditutup. "T-tapi... Ayah saya sedang operasi. Saya harus menemaninya," kata Aira bingung. "Ayahmu sedang ditangani dokter terbaik di Asia. Kehadiranmu di sana tidak berguna," Elvano berjalan mendekat. Matanya menyapu tubuh Aira dari atas ke bawah dengan tatapan possessif yang membuat Aira merasa telanjang. "Lagipula, kau lupa apa yang baru saja kau tanda tangani?" Aira menelan ludah. "Saya..." "Kau menyerahkan seluruh kebebasanmu padaku, Aira," potong Elvano tajam. "Mulai detik tinta itu kering, kau bukan lagi manusia bebas. Kau adalah properti. Kau adalah aset." Elvano kini berdiri tepat di hadapan Aira, menghalangi jalan menuju lift. Tubuhnya yang tinggi besar seolah memblokir satu-satunya jalan keluar. Aira ketakutan, berharap Elvano menyingkir dari hadapannya. Ia ingin menemani ayahnya, ada di saat kritis ayahnya. "Barang milikku tidak berjalan keluar pintu tanpa izinku. Dan malam ini, kau tidak akan kemana-mana." Kepanikan mulai merayapi Aira. "Tapi baju saya kotor... saya butuh pulang untuk mengambil pakaian ganti... saya..." "Diam." Satu kata itu membungkam Aira. Elvano sendiri menikmati wajah ketakutan dan kepanikan Aira. Dan dia akan terus mempermainkan psikologis Aira. Demi kepuasannya. Elvano menjulurkan tangan, mencengkeram kerah seragam cleaning service Aira yang bau apek. Wajahnya mengeras jijik. "Kau bau sampah. Kau bau kemiskinan. Dan aku benci bau itu ada di penthouse-ku." Elvano berkilat marah dan sombong, “kalimat yang selalu ayahmu katakan ketika melihatku. Dimatanya aku hama, dan sekarang nyawanya ada di tanganku. Menarik, bukan?” Mata Elvano berkilat berbahaya. Cengkeramannya mengerat. "Buka bajumu! Kemiskinan ini mengingatkanku pada kejadian lima tahun lalu. Dimana kemiskinan merenggut kemerdekaanku sebagai manusia.” Mata Aira membelalak horor. Dia menyilangkan tangan di d**a secara refleks. "A-apa?" Aira menggeleng hebat. Tidak percaya dengan apa yang ia dengar! Tidak! Lebih tidak percaya kalau Bastian atau Elvano bisa mengucapkan kalimat itu. "Kau tuli?" bentak Elvano. Suaranya menggema, membuat kaca jendela bergetar. "Kubilang buka baju kotor itu sekarang. Atau perlu aku yang merobeknya paksa?" Mata Aira membelalak, kepala menggeleng lemah. Air mata berderai tanpa disadarinya. Elvano baru saja memerintahkan hal yang mustahil ia lakukan. Tapi sekarang, apa bisa ia menganggapnya mustahil sementara pria ini yang memiliki hak atas tubuhnya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN