BRAK! Suara kayu lapuk yang hancur beradu dengan engsel besi bergema di keheningan gang sempit itu. Pintu depan rumah kontrakan tua itu tidak sekadar dibuka, melainkan ditendang hingga jebol, terlepas dari kusennya dan menghantam lantai semen dengan debu yang membumbung tinggi. Cahaya senter yang menyilaukan membelah kegelapan pekat di dalam ruangan. Sinar putih itu menyapu dinding berjamur, sarang laba-laba, dan lantai yang penuh kotoran tikus. "AIRA!" Teriakan itu bukan berasal dari manusia, melainkan raungan seekor binatang buas yang terluka. Bastian Pradipta berdiri di ambang pintu yang hancur, napasnya memburu, matanya liar menyisir setiap sudut ruangan yang bau apek itu. Di belakangnya, Pak Joko dan beberapa pengawal berbadan tegap bersiaga dengan senter masing-masing, namun tid

