Di balik pintu ganda baja yang tertutup rapat, waktu seolah kehilangan dimensinya. Ruang operasi nomor 1 itu bukan lagi sekadar ruangan medis, melainkan medan perang di mana malaikat maut dan manusia bertarung memperebutkan satu nyawa yang rapuh. "Skapel," perintah Dokter Prasetyo tegas. Instrumen bedah berkilau di bawah sorot lampu operasi yang menyilaukan. Udara di ruangan itu dingin, diatur pada suhu rendah untuk menekan pertumbuhan bakteri, namun keringat dingin tetap membanjiri dahi para tim medis di balik masker hijau mereka. Di atas meja operasi, tubuh Aira terbaring kaku. Dada kirinya ditempeli elektroda EKG yang terus berbunyi bip... bip... bip... dengan irama yang lemah dan tidak stabil. Dia telah diintubasi, sebuah selang plastik dimasukkan ke tenggorokannya, mengambil alih

