Bau Keringat Murahan

1432 Kata

Hening. Hanya suara heels setinggi dua belas sentimeter yang menghantam lantai parket marmer. Setiap langkah Aira terasa seperti hitungan mundur menuju kematiannya sendiri. Dia melangkah maju, meninggalkan tumpukan gaun merah yang tergeletak menyedihkan di dekat pintu, kulit luarnya yang baru saja ia kelupas. Kini, dia bukan lagi Aira Wiranata. Dia bukan lagi putri seorang bankir ternama, bukan pula seorang wanita yang memiliki harga diri. Dia hanyalah seonggok daging. Properti bernyawa. Aset pelunasan hutang. Aira mematikan saklar di kepalanya. Dia membunuh rasa malunya. Jika dia terus memelihara rasa malu itu, dia akan gila. Dia membiarkan tubuhnya bergerak secara mekanis, mendekati kursi tempat "Tuan"-nya duduk. Bastian, tidak, Elvano, tidak berkedip. Matanya yang gelap, segelap lan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN