“Bukan … bukan begitu maksudku.” Sesa mendesah. Susah sekali mencairkan hati Sultan yang membeku. Bertahun-tahun berlalu, tapi, pria yang semakin tampan seiring bertambahnya usia itu masih saja begitu dingin padanya. Padahal keluarga mereka sudah merencanakan pernikahan mereka. “Bisa kita masuk dan sarapan bersama?” tanya Sesa masih berusaha untuk bersabar. “Masuk saja, silahkan.” Mendengar apa yang Sultan katakan, langsung saja senyum Sesa mengembang. Wanita yang berprofesi sebagai dosen tersebut sudah hendak mengangkat kaki kanannya, saat suara Sultan kembali terdengar. “Silahkan sarapan di ruang makanku, aku akan keluar.” “Kamu ….” Sesa menarik napas dalam-dalam ketika merasakan emosi mulai sulit ia kontrol. Sepasang mata wanita itu tertutup beberapa detik sebelum kembali terbuka,

