Bab 155.-2

708 Kata

Pramu Atmadja mengembalikan album foto pada Marita, lalu beranjak berdiri. Tidak langsung pergi, pria yang sudah pensiun itu menatap kembali anak menantunya. “Kalau sampai kamu berbohong, kamu tahu akibatnya, Marita.” Mulut Marita terbuka, namun cepat-cepat ia tutup kembali. Jantungnya berdegup kencang. Apa yang harus ia lakukan? “Meskipun aku marah pada Kansa, karena dia meninggalkan Sultan—tapi, kalau dia memang punya anak dari Sultan, anak itu tetap cicitku, dan dia akan menjadi penerus Sultan.” “Pa …,” panggil Marita. “Penerus Atmadja harus dari perempuan berkelas. Tidak boleh sembarangan, Pa. Apa kata orang nanti kalau penerus Sultan lahir dari rahim anak pembantu?” “Aku sudah pernah bilang. Bagiku yang paling penting perempuan itu cantik, baik dan pintar. Kansa memiliki tiga krit

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN