“Adam?” kaget Kansa. Kansa buru-buru mengembalikan perhatian pada Niken. Melihat Niken tersenyum lebar, sepasang alis Kansa terangkat. “Kalian … jangan-jangan kalian … mau nikah?” Entah untuk yang ke berapa kalinya mata Niken membesar. “Kok tahu? Eh … bukan. Aku yang mau nikah, tapi dianya masih males.” Niken berdehem seraya beranjak dari sofa. “Sebentar, ya. Kamu tunggu di sini.” Lalu Niken bergegas meninggalkan sofa. Berjalan cepat ke arah pintu, kemudian keluar. Kansa menghembus pelan karbondioksida dari celah mulut yang terbuka. Tersenyum membayangkan dua temannya akan menikah. Semoga disegerakan, batinnya berdoa. Kansa tidak mengalihkan perhatian dari akses keluar masuk rumah orang tua Niken. Menunggu sosok yang nantinya akan muncul, dan pasti terkejut saat melihatnya. Dan tebakan

