“Raja tidak suka Daddy kerja. Daddy kerjanya lama sekali. Raja kan kangen Daddy.” Raja yang sudah menarik menjauh kepalanya—menatap sang ayah dengan wajah sedih. “Sekarang tidak lagi, Sayang. Kita akan bertemu setiap hari. Raja juga boleh ikut Daddy kerja.” “Benarkah?” Sepasang mata anak itu membesar. “Tentu.” Sultan mengangguk. Pria itu memeluk tubuh sang putra penuh sayang. Tarikan napasnya begitu dalam, ketika merasakan nyeri di dalam dadanya. Sudah terlalu banyak kebersamaan yang hilang karena ia tidak mengetahui keberadaan putranya. “Momi … Daddy sekarang kerjanya tidak lama lagi,” ujar Raja yang kini sudah mengalihkan pandangan pada sang momi. Anak itu tersenyum lebar, hingga deretan giginya terlihat. Sepasang matanya berbinar. Tampak begitu bahagia mengetahui sang ayah tidak aka

