Kansa mendelik di tempatnya. Tanpa wanita itu sadari jika kedua pipinya bersemu merah mendengar ucapan Sultan. Kansa berdehem. “Panggil mominya Raja saja.” “Insya Allah ya, Sayang. Kalau ingat.” Kansa mendesah. Baru juga diingatkan, sudah dilanggar lagi. “Kalau mau jemput Raja, pulang dulu. Aku mau nitip sesuatu,” kata Kansa, tanpa menjelaskan barang apa yang hendak ia titipkan. “Oh, baiklah. Jujur saja, aku juga sudah kangen kamu.” Sultan pun tidak bertanya lebih jauh. Pria yang masih duduk di kursi kerjanya sambil menggerakkan mouse untuk mematikan laptopnya itu, mengulum senyum. Tidak mendengar decakan Kansa, atau yang lebih parah omelan wanita itu setelah apa yang ia katakan, rasanya begitu senang. “Ya sudah. Aku tutup. Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikum salam.” Di tempatnya, Sultan t

